Jumat, 18 September 2009

METODE PRAKTIS PENYUSUNAN KARYA ILMIAH

Oleh: Abdullah Pandang

Dipublikasikan Oleh: Abdul Zakaria, S.Pd.

Tulisan ini merespon rekan-rekan guru mengenai banyaknya pertanyaan tentang pengembangan profesi tentang karya tulis ilmiah. Ucapan terima kasih patut kita haturkan kepada bapak Dr. Abdullah Pandang atas atensinya untuk selalu berbagi dan kesiapannya sharing dengan rekan-rekan guru. Semoga tulisan ini bermanfaat selalu. Selamat mencoba, selamat berbuat, dan selamat berkarya (Learning to do.....!!!)

A. Pendahuluan
Penulisan karya ilmiah merupakan salah satu ciri pokok kegiatan pengembangan suatu profesi dan masyarakat ilmiah. Melalui penulisan karya ilmiah, para anggota masyarakat ilmiah dapat saling mengkomunikasikan informasi baru, gagasan, kajian, dan hasil penelitian. Dengan demikian, mereka dapat berbagi pengalaman, pemikiran, atau gagasan inovatif untuk peningkatan mutu kinerja profesional mereka. Di samping itu, melalui penulisan karya ilmiah, hasil-hasil kajian keilmuan dapat didokumentasikan, dipublikasikan, dan disosialisaikan kepada masyarakat umum. Ini juga berarti, para anggota suatu profesi dapat merealisasikan fungsi agent of social change mereka.

Penulisan karya ilmiah merupakan aspek yang juga mendapat perhatian dalam kebijakan pengembangan profesi pada jabatan fungsional pegawai negeri. Setiap pegawai, untuk naik pangkat, diharuskan menunjukkan suatu tulisan karya ilmiah. Kebijakan ini diharapkan dapat berdampak positif dalam memacu aktifitas pengembangan profesi yang bersifat inovatif. Dalam praktik, kebijakan ini menghadapi banyak tantangan, sebab aktifitas penulisan karya ilmiah belum merupakan ciri budaya profesional di hampir semua bidang profesi di Indonesia. Karya ilmiah belum dipandang sebagai satu kewajiban profesional. Itu sebabnya, hasil karya ilmiah yang terpublikasikan dari para anggota profesi, khususnya dari praktisi lapangan, secara kuantitatif dan kualitatif masih sangat terbatas.

Mengingat pentingnya penulisan karya ilmiah dalam pengembangan profesi dan peningkatan karier, maka anggota profesi perlu dibantu mengembangkan keterampilan yang terkait dengan aktifitas penulisan karya ilmiah. Dia antara upaya yang dapat dilakukan ke arah ini adalah memberikan pelatihan dan menyediakan pedoman penyusunan karya ilmiah. Dalam tulisan ini, diuraikan secara ringkas beberapa aspek yang dipandang penting dan terkait dengan aktifitas penulisan karya ilmiah.

B. Ciri dan Bentuk Karya Ilmiah

Karya tulis ilmiah adalah karangan tertulis yang dibuat berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah. Berbeda dengan karangan biasa, karangan ilmiah memiliki ciri yang merepresentasikan ciri ilmu itu sendiri. Ciri umum karangan ilmiah yaitu menyajikan fakta (tidak mengada-ada), objektif dan jujur, tidak memihak, mengesampingkan pendapat yang tidak memiliki dasar, tidak bercorak debat, memberi gambaran deskriptif (tidak bernada membujuk dan menggurui), sistematis, dan logis.

Dalam memaparkan pemikiran dan gagasan, penulis karangan ilmiah dituntut menggunakan gaya dan ciri bahasa sebagai berikut:

  1. Menggunakan bahasa resmi dan baku
    1. Kata yang bersifat teknis dan belum banyak dikenal, jika digunakan, selalu disertai dengan penjelasan dan batasan
    2. Mengindari penggunaan bahasa yang basa-basi, berlebihan, dan bersifat ekstrim.
    3. Mengutamakan aspek pikiran, bukan perasaan. Pemakaian metafor atau kiasan dibatasi.

Karya tulis ilmiah dapat dibuat dalam berbagai bentuk. Dalam tulisan ini, diuraikan secara singkat tiga bentuk karya ilmiah yang banyak digunakan dalam mendapatkan kredit point dalam pengusulan kenaikan pangkat, yaitu makalah, laporan penelitian, dan artikel ilmiah.

  1. Makalah

Secara harpiah, makalah berasal dari bahasa Arab yang berati karangan. Makalah merupakan jenis karangan ilmiah yang menyajikan suatu pemikiran, gagasan, atau ide mengenai suatu topik atau permasalahan tertentu. Tulisan dalam makalah biasanya menguraikan hasil penalaran dan argumentasi konseptual sang pengarang berkenaan dengan pemikiran, gagasan, atau ide yang dikemukakannya. Dalam forum pertemuan ilmiah, makalah merupakan acuan dan bahan penting dalam mendiskusikan suatu topik.

Kerangka isi dan sistematika makalah umumnya meliputi unsur-unsur berikut:

  1. Bagian pendahuluan, yang berisi latar belakang penulisan makalah, penjelasan masalah, tujuan penulisan, dan batasan istilah yang dipandang perlu.
  2. Bagian inti makalah, yang berisi pembahasan topik sesuai sistematika yang telah ditentukan. Ini dapat terdiri atas beberapa sub-bagian atau sub-topik, tergantung cakupan makalah yang hendak ditulis.
  3. Bagian penutup, yang berisi kesimpulan atau rangkuman dan saran-saran (jika diperlukan).
  4. Bibliografi atau kepustakaan, yang berisi daftar bacaan acuan dalam penulisan makalah.
  5. Lampiran (bila dipandang perlu), yang berisi hal-hal yang bersifat pelengkap, seperti instrumen, surat keterangan, format-format, dsb.
  1. Laporan Penelitian

Laporan penelitian adalah karya tulis ilmiah yang dibuat berdasarkan hasil-hasil dan temuan penelitian tertentu yang telah direncanakan dan dilakukan oleh penulis. Laporan penelitian memaparkan data dan fakta empiris (evidence) yang digunakan untuk menjawab suatu permasalahan atau hipotesis tertentu.

Laporan penelitian dapat ditulis dalam berbagai bentuk sesuai kebutuhan dan kepentingannya. Kerangka penulisannya juga sangat tergantung pada gaya selingkung yang berlaku dalam institusi sponsor atau pelaksana penelitian. Namun demikian, secara teknis, laporan penelitian biasanya memuat unsur-unsur berikut:

  1. Bagian pendahuluan (bisanya menjadi Bab I), yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian atau hasil yang diharapkan, serta kegunaan penelitian.
    1. Bagian tinjauan teori dan kerangka berfikir (biasanya menjadi Bab II), yang berisi paparan konsep-konsep teori dan kerangka pikir yang yang terkait dengan variabel penelitian, dan hipotesis (jika ada).
    2. Bagian metode penelitian (bisanya menjadi Bab III), yang memaparkan disain penelitian, variabel, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
    3. Bagian temuan dan pembahasan (Bab IV), berisi temuan-temuan yang diperoleh serta pembahasan atas temuan-temuan tersebut.
    4. Bagian simpulan dan saran (Bab V), berisi simpulan akhir penelitian, dan saran-saran atau rekomendasi sehubungan dengan hasil penelitian yang diperoleh.
    5. Bibliografi atau kepustakaan, yang berisi daftar bacaan yang digunakan dalam penulisan laporan penelitian.
    6. Lampiran, yang berisi hal-hal yang bersifat pelengkap, seperti instrumen, surat keterangan, format-format, dsb.

Di samping bagian-bagian utama tersebut, laporan penelitian juga biasanya dilengkapi dengan abstrak dan ringkasan atau executive summary. Ini biasanya ditulis pada bagian depan sebelum bagian pendahuluan.

  1. Artikel Ilmiah

Artikel ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang diperuntukkan untuk diterbitkan dan dipublikasikan, khususnya lewat jurnal dan majalah ilmiah. Jenis karya ilmiah ini memiliki bobot penilaian tertinggi dalam perhitungan kredit point dibandingkan dua jenis karya ilmiah terdahulu.

Artikel ilmiah dapat berupa artikel hasil penelitian dapat pula berupa artikel non-penelitian. Artikel jenis pertama dibuat berdasarkan hasil penelitian tertentu. Sementara artikel jenis kedua meliputi semua artikel yang bukan merupakan laporan hasil penelitian. Artikel non-penelitian meliputi artikel, seperti artikel yang mengkaji suatu teori, konsep, atau prinsip; mengembangkan suatu model, mendeskripsikan fakta atau fenomena tertentu, menilai suatu produk, dan sebagainya.

Sistematika penulisan artikel sangat tergantung pada gaya selingkung yang ditetapkan oleh jurnal yang menerbitkannya. Setiap jurnal memiliki gaya selingkung sendiri. Ini biasanya dikemukakan pada bagian dalam halaman kulit belakang di setiap jurnal. Secara umum, isi artikel meliputi unsur-unsur: judul, nama penulis, abstrak dan kata kunci, pendahuluan, bagian inti (dalam artikel hasil penelitian bagian ini berisi: metode, hasil, dan pembahasan; sedang dalam artikel non-penelitian, bagian ini berisi pembahasan topik), kesimpulan dan saran atau penutup, serta daftar pustaka.

C. Pemilihan dan Penentuan Topik

Penentuan topik merupakan kegiatan awal penyusunan dan penulisan karya ilmiah. Pilihan topik yang tepat dapat mengantar kepada kelancaran penyelesaian penulisan suatu karya ilmiah. Dalam penentuan topik ini, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu:

  1. Pilihlah topik yang memiliki kemanfaatan, baik dari segi praktis maupun dari segi teoritis.
  2. Pilihlah topik yang aktual, bukan topik yang usang dan telah dikaji berulang-ulang.
  3. Pilihlah topik menarik dan sesuai dengan minat penulis.
  4. Pilihlah topik yang berada dalam bidang keilmuan penulis.
  5. Pilihlah topik yang untuk membahasnya tersedia bahan dan literatur yang memadai.

D. Penyusunan Kerangka Isi

Penyusunan kerangka isi mengacu kepada cara penataan urutan isi yang akan dideskripsikan dalam suatu karya tulis. Ini merupakan langkah penting yang perlu dibuat sebelum menulis karya ilmiah secara panjang lebar. Ketepatan kerangka isi bisa memudahkan dalam menyelesaikan karya yang hendak dibuat.

Dalam menyusun kerangka isi, ada beberapa langkah yang perlu dilewati, yaitu:

  1. Mengidentifikasi tipe karya tulis yang hendak dibuat. Tipe karya tulis yang hendak dibuat, akan menentukan lingkup isi yang akan dituangkan dalam karya tulis itu.
  2. Menetapkan dan menyusun struktur isi. Struktur isi mengacu kepada kaitan antar isi. Jika kerangka umum telah dibuat, penulis perlu menentukan lebih lanjut unsur dan sub-unsur apa yang perlu tercakupi dalam struktur tersebut.
  3. Menata urutan isi dalam struktur yang logis. Ada dua macam pola tulisan yang dapat ditempuh, yaitu pola problem-solution dan pola matching. Pola problem-solution mempunyai empat unsur; (a) situation, (b) problem, (c) solution, dan (d) evaluation. Sedang pola matching dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu compatibility matching, yaitu menyusun unsur-unsur dengan serangkaian informasi yang setara; dan contrast matching, yaitu menyusun unsur-unsur dengan informasi yang maknanya bertentangan.
  4. Membuat peta kognitif, di mana unsur dan sub-unsur ditata dalam bentuk skema atau peta yang menunjukkan saling hubungan satu sama lain.

E. Penulisan Paragraf

Paragraf ialah unit organisasi paling dasar dalam tulisan. Dalam paragraf, sekelompok kalimat yang saling berhubungan mengembangkan satu ide pokok. Paragraf bisa sesingkat satu kalimat, bisa juga sepanjang sepuluh kalimat. Jumlah kalimat dalam satu paragraf tidak penting. Namun demikian, panjang paragraf itu hendaknya cukup untuk mengembangankan ide pokok dengan jelas.

Paragraf mempunyai tiga bagian penting: kalimat topik, kalimat pendukung, dan kalimat penyimpul. Kalimat topik berisikan ide utama dalam paragraf. Kalimat ini menunjukkan secara singkat apa yang akan dibahas dalam paragraf itu. Kalimat pendukung adalah kalimat-kalimat tambahan yang berfungsi menguraikan atau memberi penjelasan dan tidak boleh menyimpang dari kalimat topik. Sedang kalimat penyimpul menyajikan ikhtisar butir-butir penting dalam paragraf. Kalimat ini tidak mutlak ada dalam suatu paragraf.

Dalam membuat kalimat topik, ada beberapa hal penting yang harus diingat. Pertama, kalimat topik haruslah berupa kalimat lengkap, yaitu mempunyai subjek, kata kerja atau predikat, objek, dan keterangan pelengkap. Kedua, kalimat topik tidak boleh terlalu rinci sehingga tidak ada lagi yang akan dikatakan dalam paragraf, atau sebaliknya terlalu luas dan umum sehingga sulit menjabarkannya. Di samping itu, kalimat topik sebaiknya tidak memuat ide-ide yang tidak saling terkait, sebab kalau ada, kalimat yang dikembangkan menjadi kurang utuh.

Paragraf yang baik juga harus memiliki unsur keutuhan (unity) dan unsur keruntutan (coherence). Keutuhan suatu paragraf dapat dicapai jika di dalamnya dibahas hanya satu ide pokok saja. Ide pokok itu dinyatakan dalam kalimat topik, dan kemudian tiap kalimat pendukung mengembangkan ide pokok itu. Sementara itu, keruntutan paragraf dapat dicapai melalui dua cara. Pertama, kalimat-kalimat dalam paragraf disusun dalam urutan yang logis. Kedua, ide-ide pokok yang terdapat dalam paragraf dihubungkan dengan kata-kata pemandu atau tanda-tanda transisi yang tepat (seperti: pertama, karena itu, contoh, namun demikian, sebaliknya, singkatnya, dsb.).

Sebelum menulis suatu paragraf, perlu dibuat kerangka paragraf lebih dahulu. Ini berguna untuk membantu penulis mengatur ide dan menyeleksi ide yang relevan, sehingga memudahkan untuk menyusun kalimat yang baik. Ada dua prinsip yang perlu diikuti dalam penulisan kerangka paragraf. Prinsip pertama ialah prinsip persamaan nilai, yaitu bahwa ide-ide yang setaraf nilainya harus diberi kode yang sama. Prinsip kedua ialah prinsip paralel, yaitu bahwa bagian-bagian yang sama dari suatu kerangka formal haruslah dinyatakan dalam bentuk tatabahasa yang sama: frasa, klausa, atau kalimat.

F. Cara Mendukung Gagasan

Salah satu problem yang dihadapi penulis ialah masalah meyakinkan pembacanya akan kebenaran pendapatnya. Penulis terkadang mengalami kesukaran meyakinkan pembaca karena ia gagal mendukung gagasannya dengan perincian yang konkrit.

Ada tiga cara yang dapat ditempuh untuk mendukung gagasan yang diutarakan, yaitu: dengan contoh atau ilustrasi, kutipan, dan data statistik. Contoh dan ilustrasi adalah cara mendukung ide paling mudah. Cara ini tidak mengharuskan penulis melakukan penelitian diperpustakaan untuk mendapatkan informasi. Tapi, dalam penulisan karya ilmiah, cara ini merupakan cara mendukung paling lemah. Yang agak sukar ialah mengutip dan memaparkan data statistik. Kedua cara ini mengharuskan penulis membaca literatur dan meneliti dokumen. Dalam penulisan karya ilmiah, kedua cara terakhir itulah yang dianggap paling penting dan paling banyak dipakai.

G. Cara Menulis Rujukan/Kutipan

Secara garis besar, ada dua jenis kutipan, yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Berikut dikemukakan secara ringkas cara menuliskan kedua jenis kutipan tersebut.

  1. Penulisan kutipan langsung.

Kutipan langsung kurang dari 40 kata atau tidak lebih dari tiga baris, ditulis sebagai bagian terpadu dalam teks dengan diberi tanda kutip ("....") dan nomor halaman dari sumber kutipan harus disebutkan. Nama pengarang dapat ditulis secara terpadu dalam teks (lihat contoh pertama di bawah), atau ditulis menjadi satu dengan tahun publikasi dan nomor halaman yang ditulis dalam kurung (seperti contoh kedua). Perhatikan contoh berikut:

  1. Soebronto (l990) menyimpulkan "ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar" (h. 123).
  2. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah "ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar" (Soebronto, 1990, h. 123).

Kutipan yang berisi lebih dari 40 kata atau lebih tiga baris ditulis secara terpisah dari teks, tanpa tanda kutip, dan diketik lima ketukan dari garis tepi kiri dengan spasi tunggal. Nomor halaman juga harus ditulis dan diketik di bagian akhir kutipan dengan diapit tanda kurung.

2. Penulisan kutipan tidak langsung
Kutipan tidak langsung adalah kutipan yang ditulis dalam bahasa penulis sendiri, tanpa mengubah makna sumber acuan. Kutipan seperti ini ditulis terpadu dengan teks dan tidak perlu diberi tanda kutip. Nama pengarang dapat disebut terpadu dalam teks, atau disebut dalam kurung bersama tahun penerbitnya. Nomor halaman tidak perlu disebutkan. Contoh:

  1. Hasil penelitian Soebronto (1990) menunjukkan bahwa kemajuan belajar siswa di sekolah turut dipengauhi oleh faktor sosial ekonomi keluarganya.
  2. Hasil penelitian menunjukkan, faktor sosial ekonomi memiliki hubungan yang erat dengan kemajuan belajar yang dicapai siswa (Soebronto, 1990).

H. Cara Menulis Daftar Pustaka

Penulisan daftar pustaka berkaitan erat dengan cara penulisan nama penulis, tahun penerbitan, judul buku, dan tempat serta nama penerbit. Cara menuliskannya hendaknya mengacu kepada standar umum yang berlaku. Salah satu standar yang dapat dipakai adalah cara penulisan yang dipakai oleh Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional.

Tata cara penulisan daftar pustaka bervariasi menurut jenis sumber yang dipakai. Berikut dikemukakan tatacara dan contoh penulisan daftar pustaka untuk berbagai jenis sumber.

  1. Sumber dari buku, ditulis dengan susunan:
    1. Nama pengarang, ditulis nama belakang lebih dahulu, menyusul nama pertama dan tengah (kalau ada). Ini berlaku baik pada penulis Barat maupun penulis Indonesia;
    2. Tahun penerbitan (ditulis diapit tanda kurung atau tanda titik);
    3. Judul buku (ditulis huruf miring atau digarusbawahi, dengan huruf besar hanya pada awal judul atau sub-judul, diakhiri tanda titik);
    4. Kota tempat penerbitan dan nama penerbit, dipisahkan dengan tanda titik dua.

Contoh:

Tuckman, B.W. 1975. Measuring educational outcomes. New Yok: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.

2. Sumber buku yang berisi kumpulan artikel dan ada editornya, ditulis dengan urutan yang sama dengan pada sumber buku. Bedanya, di belakang nama pengarang (editor) diberi tanda ed. yang ditulis dalam kurung.

Contoh:

Krumbolts, J.D. & Thoresen, C.E. (ed.). 1976. Counseling methods. New Yok: Holtz, Rinehart and Winston.

3. Sumber dari artikel dalam buku kumpulan artikel, ditulis dengan susunan berikut:

3. Sumber dari artikel dalam buku kumpulan artikel, ditulis dengan susunan berikut:

  1. Nama penulis artikel yang pendapatnya dikutip.
    1. Tahun penerbitan buku.
    2. Judul artikel yang isinya dikutip. Ditulis tanpa baris bawah atau huruf miring.
    3. Nama editor dari buku kumpulan artikel tersebut ditambah keterangan (ed.) dan didauhului dengan kata "Dalam". Nama pertama dan kedua tidak perlu dibalik.
    4. Judul buku sumber artikel, ditulis dengan huruf miring atau digarisbawahi.
    5. Nomor halaman tempat artikel itu berada, ditulis dalam kurung.
    6. Kota tempat penerbitan dan nama penerbit, dipisahkan dengan tanda titik dua.

      Contoh:

      Varenhorst, B.B. 1976. Peer counseling: A guidance program and behavioral intervention. Dalam J.D. Krumbolts & C.E Thoresen (ed.). Counseling methods (h. 541-555). New Yok: Holtz, Rinehart and Winston.

  2. Sumber dari buku terjemahan (alih bahasa):
    1. Nama penulis asli dari buku yang diterjemahkan.
    2. Tahun penerbitan buku terjemahan
    3. Judul buku terjemahan, ditulis sesuai judul buku yang dikutip dan ditulis dengan huruf miring atau digarisbawahi.
    4. Nama penerjemah, ditulis tanpa dibalik dalam kurung atau diapit tanda titik.
    5. Kota tempat penerbitan dan nama penerbit
      buku terjemahan itu.

      Contoh:

      Munro, E.A., Manthel, R.J. & Small, J.J. 1983. Penyuluhan (Counselling): Suatu pendekatan berdasarkan keterampilan. Alih bahasa oleh Erman Amti.
      Jakarta: Ghalia Indonesia.

  3. Sumber dari artikel dalam jurnal:
    1. Nama penulis, ditulis seperti dalam sumber buku;
    2. Tahun terbit jurnal;
    3. Judul artikel, ditulis tanpa huruf miring atau garis bawah, dengan huruf kapital hanya pada huruf pertama pada kata pertama;
    4. Nama jurnal beserta nomor volume/edisi penerbitannya, ditulis dengan huruf miring atau digaris bawahi dengan huruf kapital di setiap kata pertama nama jurnal;
    5. Nomor halaman dalam jurnal tempat artikel ditulis.

    Contoh:

    Pandang, A. 1996. Pendekatan konseling berwawasan Indonesia. Jurnal Pendidikan dan Keguruan, Vol. 4, No, 4: 291-296.

  4. Sumber dari makalah yang disajikan dalam seminar atau simposium:
    1. Nama penulis makalah;
    2. Tahun penyajian makalah;
    3. Judul makalah, ditulis tanpa garis bawah atau huruf miring dengan huruf kapital hanya di awal kata.
    4. Nama forum pertemuan di mana makalah itu disajikan, ditulis dengan huruf miring atau dengan baris bawah;
    5. Kota tempat forum pertemuan dilaksanakan;
    6. Tanggal, bulan, dan tahun penyelenggaraan forum pertemuan itu.

      Contoh:

      Abdullah, A.E. 1993. Model sanggar/laboratorium bimbingan dan konseling di sekolah. Makalah pada Konvensi Nasional IX IPBI. Ujung Pandang, 11-13 Nopember 1993.

  5. Sumber dari skripsi, tesis, atau disertasi:
    1. Nama penulis;
    2. Tahun penerbitan;
    3. Judul skripsi, tesis, atau disertasi, ditulis tanpa garis bawah atau huruf miring dengan huruf kapital hanya di awal kata;
    4. Nama jenis karya: skripsi, tesis, atau disertasi, ditulis dengan huruf miring atau digarisbawahi.
    5. Nama perguruan tinggi (fakultas/program dan universitas/institut) tempat karya tersebut diujikan.

      Contoh:

      Pandang, A. 1996. Pengembangan model program konseling sebaya sebagai media pengalaman praktikum konseling. Tesis pada Program Pascasarjana IKIP Malang.

I. Penutup

Demikian beberapa petunjuk dalam penulisan karya ilmiah. Apa yang dikemukan dalam tulisan ini hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan materi yang perlu dipelajari dan dipahami. Peserta latihan dan pembaca perlu melengkapi diri lebih lanjut dari berbagai sumber. Di samping itu, untuk menjadi penulis yang baik diperlukan banyak praktik dan latihan. Penguasaan metodologis saja tidaklah cukup. Kemahiran menulis dan membuat karya ilmiah akan berkembang sejalan dengan makin banyaknya pengalaman dan praktik..

1 komentar :