Selasa, 08 September 2009

PTK Revieuw

Implementasi Model Pembelajaran Team Assisted Individualy (TAI) untuk Meningkatkan Minat dan Aktivitas Belajar IPA Fisika pada Kelas VII.3 SMP Negeri 3 Barru Kabupaten Barru.

Oleh; Andi Nasauddin, S.Pd. 2008


Revieuw Oleh:

Abdul Zakaria, S.Pd.

Tujuan:

(1) agar minat siswa dalam belajar IPA Fisika meningkat; sehingga siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap yang positif terhadap proses Pembelajaran dan mata pelajaran ini,

(2) untuk mendeteksi seberapa jauh pengaruh model pembelajaran Team Assisted Individualy (TAI) dalam meningkatkan hasil ketuntasan belajar siswa kelas VII.3 SMP Negeri 3 Barru.

D. Sumber Data

Beberapa sumber data peneliti dalam penelitian ini yaitu; siswa, guru, dan kolaborator.

1. Siswa

Siswa sebagai subyek penelitian untuk mendapatkan akumulasi hasil angket dan aktivitas unjuk kerja dalam pembelajaran.

2. Guru

Guru sebagai peneliti akan memperoleh data unjuk kerja siswa dalam kerja kelompok, aktivitas siswa dan kehadiran siswa. Implementasi model pembelajaran Team Assisted Individuality diperoleh pula dari guru peneliti.

3. Kolaborator

Kolaborator akan mendapatkan data tentang implementasi model pembelajaran TAI, aktivitas unjuk kerja siswa dan membantu dalam reflkesi.

E. Tekhnik dan Alat Pengumpulan Data

1. Tekhnik

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah angket, observasi, hasil ketuntatasan belajar, unjuk kerja dan diskusi.

a. Angket; data tentang tanggapan siswa dianalisis secara kuantitatif. Analisis data kuantitatif data responden yaitu memakai tekhnik Keller (1978) yaitu Rekap skor yang diberikan siswa terhadap pernyataan-pernyataan dalam Angket Minat Siswa

b. Observasi; dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang partisipasi siswa dalam pembelajaran dalam implementasi model pembelajaran Team Assisted Individuality (TAI)

c. Kolaborator; hasil observasi kolaborator sangat penting untuk dipertemuan dengan berbagai hasil observasi peneliti guna meningkatkan validitas aktivitas siswa dan implementasi model pembelajaran Team Assisted Individuality (TAI). Teknik yang diimp;emntasikan oleh tim adalah membuat suatu rencana kerja, pertemuan pertama dan kedua pengamatan kelompok dibagi kosentrasi pengamatan antra peneliti dengan kolabor.

2. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data dalam PTK ini meliputi angket, observasi, dan hasil diskusi dengan kolaborator.

a. angket: angket merupakan sumber data tentang pendapat dan sikap siswa mengenai implementasi model pembelajaran Team Assisted Individuality (TAI)

b. Observasi: menggunakan lembar observasi unjuk kerja kelompok dan lembar aktivitas siswa.

c. Kolaborator: menggunakan lembar observasi unjuk kerja siswa, aktivitas siswa dan lembar observasi peneliti.

G. Analisis Data

Setiap pertemuan akan menghasilkan data observasi dan dikumpulkan pada setiap siklus untuk dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan tekhnik rata-rata dan prosentase untuk melihat kecendrungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.

1. Angket: dengan menganalisa nilai rata-rata hasil angket pendapat dan sikap siswa dengan menggunakan teknik Keller (1978) yaitu rekap skor yang diberikan siswa terhadap pernyataan-pernyataan dalam Angket motivasi siswa dibuat dengan ketentuan sebagai berikut:

1) Untuk pernyataan dengan kriteria positif:

1 = sangat tidak setuju, 2 = tidak setuju, 3 = ragu-ragu, 4 = setuju, dan 5 = sangat setuju.

2) Untuk pernyataan dengan kriteria negatif:

1 = sangat setuju, 2 = setuju, 3 = raguragu, 4 = tidak setuju, dan 5 = sangat tidak setuju.

3) Menghitung skor rata-rata gabungan dari kriteria positif dan negatif tiap kondisi, kemudian menentukan katagorinya dengan ketentuan:

a. skor rata-rata 1,00-1,49 = tidak baik,

b. skor rata-rata 1,50-2,49 = kurang baik,

c. skor rata-rata 2,50-3,49 = cukup baik,

d. skor rata-rata 3,50-4,49 = baik, dan

e. skor rata-rata 4,50-5,00 = sangat baik.

2. Aktivitas siswa

a. unjuk kerja kelompok dalam pembelajaran IPA Fisika dengan menganalisa tingkat keaktifan kelompok dalam pembelajaran, demikian pula tentang aktivitas negative dan positif siswa. Data ini kemudian dikategorikan dalam klasisfikasi tinggi, sedang dan rendah.

Analisis hasil peneliti dan observer dianalisis kuantitatif dengan cara jumlah skor rata-rata lembar penilaian unjuk kerja kelompok interaksi, assisted, dan hasil kerja/kesimpulan dibagi jumlah skor ideal dikali 100.

a. Interaksi/koperatif; keputusan nilai instrumen interaksi dapat diberikan dengan memperhatikan keterampilan-keterampilan berikut:

- menghargai pendapat teman,

- mengambil giliran dan berbagi tugas,

- mengundang rekan untuk berbicara,

- mendengar aktif,

- memeriksa ketepatan.

b) Assisted; keputusan nilai instrumen Assisted dapat diberikan dengan memperhatikan keterampilan-keterampilan berikut:

- anggota kelompok terkoordinir,

- mempertanyakan pertanyaan yang muncul secara logis dari pengamatan,

- ada hasil proses kerja kelompok.

c) Hasil Kerja; keputusan nilai instrumen Hasil Kerja dapat diberikan dengan memperhatikan keterampilan-keterampilan berikut:

- merupakan hasil materi yang dinyatakan jelas,

- merupakan keputusan hasil data pengamatan/pemahaman materi,

- merupakan hasil analisis dan teori/pemahaman materi yang sesuai.

Penilaian unjuk kerja ini dengan memakai skor huruf A, B, C, dan D. Tekhnik analisis dengan penilaian skala huruf yaitu dengan mengkonversi nilai skor huruf dengan skor angka. Skor ini kemudian diakumulasi antara skor hasil pengamatan dari kemudian peneliti dan skor hasil pengamatan observer dan dibagi banyaknya skor maksimal ideal. Huruf penilaian peneliti ditandai dengan huruf kapital dan penilaian huruf dari observer dengan huruf kecil. Fokus model ini adalah mengamati implementasi assisted, sehingga khusus implementasi asisten/pembantu guru membimbing teman kelompoknya pada pertemuan ketiga tiap siklus akan diamati dan dinilai oleh observer dan peneliti. Dan khusus interaksi dan hasil kerja/kesimpulan pengamatan hasil kerja kelompok akan disepakati pembagian pengamatannya antara peneliti dengan observer.

b. Implementasi pembelajaran model Team Assisted Individuality dengan menganalisis tingkat keberhasilan implementasi model TAI oleh guru peneliti kemudian dikategorikan dalam klasifikasi cukup, berhasil, sangat berhasil.

Data hasil observasi dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan teknik kategorisasi berdasarkan teknik kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Masita: 2003) yaitu:

Tabel 3.1 Tekhnik Kategorisasi Standar Berdasarkan Ketetapan Departemen Pendidikan Nasional.

SKOR

KATEGORI

0 – 34

35 – 54

55 – 64

65 – 84

85 – 100

Sangat Rendah

Rendah

Sedang

Tinggi

Sangat Tinggi

Hasil dan Pembahasan

1) Observasi Aktivitas Unjuk Kerja Siswa dan Guru

a. Hasil observasi aktivitas siswa dalam kelompok pada pembelajaran siklus pertama dapat dilihat sebagai berikut:

Kelompok

Rata-rata pada siklus I

Rata-rata Unjuk Kerja

Keterangan

Interaksi

Assisted

Kesimpulan

I

63

63

75

67

Tertinggi-

II

50

63

75

63

terendah

III

63

63

75

67

IV

63

63

63

63

V

75

75

88

79

tertinggi

VI

88

63

63

71

VII

75

63

88

75

VIII

88

63

50

67

Jml

565

514

577

1656

Rata-rata

70,56

64,19

72,06

69

Tabel 4. Rekapitulasi hasil aktivitas unjuk kerja pada pembelajaran Model Team Assisted Individuality pada mata pelajaran IPA Fisika kelas VII.3 di SMP Negeri 3 Barru pada siklus I.

b. Hasil Observasi siklus Pertama; Guru Peneliti dalam pembelajaran

Catatan guru peneliti yaitu; (1) repot dalam mengkoordinir anggota kelompok karena asisten yang yang ditunjuk masih ragu untuk menerima tugas tersebut. Hasil obserbvasi guru dalam pembelajaran pada siklus pertama masih tergolong rendah dengan perolehan skor 37 atau 66,1% dari skor ideal 56. Hal ini terjadi karena lebih banyak memberi komando di depan kelas dan kurang mengunjungi kelompok sementara model pembelajaran ini butuh konsultasi pribadi. Catatan kelemahan lainnya berupa; (1) penggunaan alokasi waktu untuk mengungkapkan hasil kerja tiap kelompok guna memberi waktu pada kelompok lain demikian pula pada pengaturan waktu alokasi untuk diskusi. (2) diskusi masih sering vakum/macet.

2) Hasil Tanggapan Angket

No

Kondisi

Pernyataan Posistif

Rata-rata

Pernyataan Negatif

Rata-rata

Gabungan Rata-rata

Kriteria

1

Perhatian

119,3

3,62

110

3,33

3,47

Cukup

Perhatian

2

Relevansi

146

4,42

143

4,33

4,38

Relevansi

Baik

3

Percaya diri

114,33

3,46

115

3,48

3,47

Cukup Percaya diri

4

Kepuasan

142

4,30

140

4,24

4,29

Kepuasan

Baik

Tabel 5. Rekapitulasi hasil angket siswa tentang pembelajaran Model Team Assisted Individuality pada mata pelajaran IPA Fisika kelas VII.3 di SMP Negeri 3 Barru pada siklus I.

Tabel 5 di atas menunjukkan rekapitulasi hasil angket siswa tentang kondisi Perhatian, relevansi, percaya diri, dan kepuasan pada pembelajaran dengan model Team Assited Individuality (TAI).

Rencana Tindakan siklus II;

1) kinerja peneliti dalam mengatur alokasi waktu pembelajaran dan pemberian motivasi pada siswa lebih diintensifkan.

2) lebih intensif membimbing kelompok yang mengalami masalah.

3) memberi penghargaan pada kelompok terbaik (reward)

Hasil Siklus II:

Tabel 6. Rekapitulasi hasil aktivitas unjuk kerja pada pembelajaran Model Team Assisted Individuality pada mata pelajaran IPA Fisika kelas VII.3 di SMP Negeri 3 Barru pada siklus I.

Kelompok

Rata-rata pada siklus I

Rata-rata Unjuk Kerja

Keterangan

Interaksi

Assisted

Kesimpulan

I

75

75

75

75

Tertinggi-

II

63

88

75

75

III

75

75

75

75

IV

50

88

75

71

terendah

V

75

75

88

79

VI

88

88

63

79

tertinggi

VII

75

88

75

79

VIII

88

63

63

71

Jml

588

638

588

1814

Rata-rata

74

80

73

76

b. Hasil Observasi siklus kedua; Guru Peneliti dalam pembelajaran

Catatan guru peneliti yaitu; (1) koordiniasi anggota kelompok dengan sindirinya tercipta tanpa terlalu diinterrvensi oleh guru, asisten yang yang ditunjuk sudah menikmati dan terbiasa menerima tugas untuk membantu rekan kelompoknya. Hasil obserbvasi guru dalam pembelajaran pada siklus kedua sudah meningkat dan tergolong tinggi dengan perolehan skor 43 atau 76,8% dari skor ideal 56. Aktivitas guru sudah mengarah pada pemberian motivasi, menciptakan suasana menyenangkan, mengaktifkan siswa tanpa terlalu mengintervensi dan menguasai serta membimbing kelompok dengan kunjungan. Diskusi sudah berjalan sehingga semua kelompok dapat mengerjakan tugas sesuai waktu.

2. Hasil Tanggapan Angket

Jawaban responden tentang model pembelajaran Team Assisted Individuality (TAI) dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 7. Rekapitulasi hasil angket siswa tentang pembelajaran Model Team Assisted Individuality pada mata pelajaran IPA Fisika kelas VII.3 di SMP Negeri 3 Barru pada siklus II.

No

Kondisi

Rata-rata

Pernyataan Posistif

Rata-rata

Pernyataan Negatif

Rata-rata

Gabungan Rata-rata

Kriteria

1

Perhatian

148

3,7

143

4,33

4,017

Perhatian

2

Relevansi

163,67

4,09

149

4,515

4,595

Sangat

Relevansi

3

Percaya diri

139,33

4,22

155

4,70

4,4596

Kepercayaan diri Baik

4

Kepuasan

182,33

4,56

181

4,525

4,542

Kepuasan Sangat Baik

Tabel 7 di atas menunjukkan rekapitulasi hasil angket siswa tentang kondisi Perhatian, relevansi, percaya diri, dan kepuasan pada pembelajaran dengan model Team Assited Individuality (TAI).

REVIUW HASIL PENELITIAN

Oleh; Abdul Zakaria, S.Pd.

A. Tujuan:

Review: Karena sudah banyak hasil penelitian yang membuktikan pasti ada koelasi antara peningkatan minat/motivasi belajar dengan hasil belajar, maka pada penelitian ini fokus pengamatannya seharusnya satu saja yaitu pengamatan penignkatan minat belajar saja dengan memperbanyak teknik pengumpulan datanya.

B. Sumber Data

Sumber data sudah lengkap; siswa sebagai subyek, guru peneliti yang juga sebagai instrumen, dan kolabor/observer.

C. Tekhnik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik dan pengumpulan datanya berupa angket, lembar observasi guru peneliti untuk pengamatan proses pembelajaran, lembar observasi guru observer untuk pengamatan proses belajar dan implementasi rencana oleh peneliti.

Reviuw:

Alat dan teknik pengumpulan data mungkin masih perlu tambahan berupa lembar pedoman wawancara atau minimal hasil refleksi pembelajaran dari siswa yang dibagikan bersamaan dengan angket versi Keller.

C. Hasil dan Pembahasan

1. hasil pembahasan sangat kuantitatif, beberapa hal misalnya interaksi siswa, elaborasi siswa tidak dijelaskan secara kualitatif.

2. catatan guru dan kolabor masih perlu direalkan apa yang terjadi sehingga suatu kelompok memperoleh nilai A, B, C, D misalnya.

3. sebuah pembelajaran seyogyanya mempertimbangkan tujuan pendidikan nasional yang sangat kualitatif. Hasil belajar dengan mempertimbangkan KKM mengkebiri kemampuan eksplorasi kompetensi siswa, sehingga keberhasilan belajar jangan hanya dilihat dari segi angka-angka pencapaian indicator tetapi pencapaian sikap dan kolaborasi, berkomunikasi, moral, menerima pendapat teman dan menerima sesuatu masukan sangat perlu dibentuk sejak dini. Bukankah banyak siswa yang putus asa setelah mendapatkan kenyataan yang sangat-sangat mengecewakan tidak dapat mengendalikan diri karena terbiasa belajar yang sok menyenangkan di sekolah?

4. Hasil belajar dan keberhasilan proses jangan hanya dilihat dari pencapaian indicator, yang penting prosesnya itu (Jensen:2)

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk merevieuw PTK saudara A. Nasaruddin, S.Pd.


Tidak ada komentar :

Poskan Komentar