Sabtu, 06 April 2013

Colliq Puji ẻ


Nama Colli Puji ẻ bagi sebagian anak bangsa di kabupaten Barru mungkin sudah pernah dengar tetapi belum akrab apalagi mengenal lebih jauh siapa gerangan Colli Puji ẻ....atau mungkin sebagian penghuni istana pemerintahan di kabupaten Barru belum mengenalnya....warga dan anak-anaku sebagai kader dan penerus warga kabupaten Barru sangat layak untuk mengenal dan setidaknya tidak asing jika membicarakan tentang ‘orang besar’ kabupaten Barru ini. Berikut secuil tentang:

Colliq Puji

Retna Kencana Colli Puji ẻ Arung Pancana Toa Matinroẻ ri Tucaẻ. Bila diurai satu-satu arti nama ini, maka “Retna Kencana” merupakan nama Melayu yang diberikan orang tuanya sejak kecil. “Colli Pujiẻ berarti pucuk daun yang terpuji sedangkan “Arung Pancana Toa” adalah gelar jabatannya sebagai Raja Tua di Pancana. Setelah meninggal dunia ia diberi gelar anumerta “Matinro ri Tucaẻ. “Tucaẻ” adalah nama salah satu tempat di Lamuru, tempat Colli Pujiẻ meninggal.
Tidak diketahui dengan pasti kapan tepatnya “Colli Pujiẻ” lahir. Hanya menurut perkiraan Mathes ia diperkirakan lahir sekitar tahun 1812-an. Ia kemudia menikah dengan La Tadampareq To Apatorang, raja Ujung. Dari perkawinannya ini, ia dikaruniai tiga orang anak, dua diantarax adalah perempuan yaitu Wẻ Tenriollẻ Sitti Aisyah, yang kedua I Gading, dan yang laki-laki bernama La Makkawaru.
Bila ditelusuri lebih jauh latar belakang keluarga Colli Pujiẻ sangatlah erat hubungannya dengan raja-raja Bugis terutama Barru (Tanete), Bone, Soppeng, dan Rappang. Dalam lontaraq disebutkan silsilahnya bahwa La Mauraga Datu Mario Ri Wawo memperistrikan Indra Johar Manikam Puteri Daha anak Ali Abdullah bergelar Datu Pabean dan melahirkan Mangari Sodda Colli Pakuẻ. Colli Pakuẻ kemudian menikah sepupu satu kalinya La Rumpang Mega, putera pasangan La Mappaware Datu Lamuru dengan Asia Datu Lampulle yang juga merupakan Arung Rappang. Dari perkawinan antara Colli Pakuẻ dengan La Rumpang lahirlah Colliq Pujiẻ. Colliq Pujiẻ kemudian dinikahkan dengan To Appo La Tenreng Arung Ujung atau yang biasa juga disebut La Tandampareq. Dari perkawinan ini Colliq Pujiẻ dikaruniai tiga orang anak, masing-masing bernama Wẻ Tenriollẻ  (Datu Tanete), Tenripassalipe I Gading (Arung Atakka), dan La Makkarumpa atau biasa juga disebut La Makkawaru (Arung Ujung).
Retna Kencana Colli Puji ẻ Arung Pancana Toa Matinroẻ ri Tucaẻ merupakan sosok yang multidemensial. Dalam perjalanan hidupnya Colli Puji ẻ dikenal sebagai ilmuwan, sejarahwan, dan pejuang kemanusiaan, sertaseorang bangsawan yang pernah menduduki tahta sebagai Datu (Raja) Lamuru IX. Colli Puji meninggalkan banyak karya yang mampu terus “menghidupkan” dirinya hingga kini. Salah satu karya yang tak bisa dilupakan oleh bangsa Indonesia dan dunia adalah karya Sastra La Galigo yang merupakan salinan tangannya yang terkumpulkan dari berbagai naskah lontaraq yang tersebar hingga berjumlah sekitar 300.000 bait syair. Karya ini banyak dipelajari dan menjadi sumber referensi utama bagi banyak ilmuwan yang ingin mengkaji, khususnya tentang Sulawesi Selatan. Salinan tangan sebanyak 12 jilid ini kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Netherlands. Karya sastra La Galigo merupakan karya sastra klasik terbesar di dunia yang masih ada hingga kini. Bahkan menurut R.A. Kern; Sureq Galigo merupakan karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia setara dengan Kitab Mahabarata dan Ramayana dari India, serta sajak-sajak Homeru dari Yunani.
Sumber: Aggurung Bahasa Ugi Kls IX SMP
Oleh; Tim Pengelola Pengembangan Bahasa Bugis dan Kebudayaan

Daerah Kabupaten Barru 2009

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar