Rabu, 25 Agustus 2010

Implementasi Forum Lesson Study di SMP Negeri 1 Barru Kabupaten Barru

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Memperhatikan anak didik dewasa ini diberbagai sekolah di daerah (terutama SMP di kabupaten Barru) kita akan mendapatkan suatu fenomena yang kurang sehat yang sudah menjadi bentukan dari beberapa dekade manajemen pembelajaran sebelumnya. Siswa sudah terbiasa dengan kondisi diam memperhatikan-guru menjelaskan, ekspresi komunikasi tidak terbangun, otak siswa dicuci dengan berbagai standar-standar kompetensi yang harus diukur ketuntasannya berupa angka-angka, siswa akan terbiasa dengan menghapal fakta-fakta, konsep dan kurang mnggeneralisasikan konsep tersebut.

Pembelajaran menuntut guru untuk menguasai isi atau materi bidang studi yang akan diajarkan serta wawasan yang berhubungan dengan materi tersebut. Dengan demikian guru harus dapat menerapkan inovasi-inovasi baru dalam pendidikan khususnya inovasi pembelajaran di kelas sebagaimana yang telah direkomendasikan para pakar pendidikan agar dapat memenuhi tuntutan kurikulum. Kolaborasi antar pembelajar merupakan satu wahana positif untuk mengarah kompetensi ini. Salah satu bentuk kolaborasi guna meningkatkan kompetensi guru adalah forum Lesson Study.

1. Lesson Study

Lesson study di kabupaten Barru terlaksana berkat kerjasama antara pihak pemerintah daerah provinsi Sulawesi Selatan bekerjasama dengan pihak Japan International Cooperation Agency (JICA) suatu kerjasama pemerintah Indonesia-Jepang dalam bentuk kegiatan Prima Pendidikan yang mengcover tiga kabupaten yaitu kabupaten Jeneponto, kabupaten Barru, dan kabupaten Wajo dan 50% dari kecamatan pada kabupaten target akan dibina. Pada siklus kedua (tahun kedua) prima pendidikan membutuhkan satu dari empat kecamatan binaan di kabupaten Barru yang mendapatkan kesempatan mengimplementasikan lesson study, sehingga seleksi ketat proposal tidak terhindarkan dan dari hasil seleksi tersebut, kecamatan Barru dan SMP Negeri 1 Barru yang terpilih sebagai kontestan dan berhak mengimplementasikan lesson study berupa forum Lesson Study berbasis MGMP/LSMGMP (kecamatan) dan forum lesson study berbasis sekolah (LSBS) untuk tingka t sekolah. Calon fasilitator kecamatan mengadakan study banding di kabupaten Pasuruan pada bulan Desember 2008 untuk menyaksikan langsung implementasi lesson study pada beberapa SMP di kabupaten Pasuruan. Dasar dari terpilihnya kabupaten Pasuruan sebagai daerah tujuan tidak terlepas dari status kabupaten ini sebagai piloting serta keberhasilannya dalam mengimplementasikan lesson study yang sudah berjalan selama empat tahun.

2. Media Pembelajaran sebagai Bahan Ajar

Kendala yang menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa tersebut menuntut guru pandai-pandai dan inovatif dalam mencari strategi belajar yang cocok diterapkan sesuai dengan kondisi dan karakteristik siswa. Kemampuan menerapkan metode yang baik dan dapat memilih jenis metode dan media yang cocok untuk materi yang disajikan adalah jenis kemampuan yang perlu dimiliki oleh guru. Pertanyaannya bagaimana jika guru ingin menyampaikan suatu konsep tapi media pendukung tidak tersedia di sekolah? Atau memang belum ada di mana-mana?, kreativitas guru adalah jawabannya. Kemampuan ini merupakan kunci yang dapat memfasilitasi siswa dalam mencapai tujuan materi yang diberikan oleh guru.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diangkat suatu rumusan masalah sebagai berikut:

1) Bagaimana pemanfaatn media rangka hewan untuk open kelas mata pelajaran biologi

2) Apa pembelajaran yang dapat dipetik oleh guru setelah mengimplementasikan lesson study di kabupaten Barru.

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

1. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian ini adalah:

1) Mendeskripsikan pemanfaatn media rangka hewan untuk open kelas mata pelajaran biologi

2) Mengetahui pembelajaran yang diperoleh setelah terlibat dalam forum lesson study

2. Manfaat

1.Siswa : Siswa lebih aktif dan termotivasi sehingga senang belajar biologi dan dapat memperoleh pengalaman belajar.

2. Guru : Dapat menambah wawasan tentang strategi pembelajaran dan media pembelajaran.

3. Kepala Sekolah : Untuk menjadi dasar dalam mengambil keputusan/kebijakan terutama pada proses pembelajran di sekolah

4. Peneliti : Penelitian ini menjadi pertimbangan untuk meneliti masalah-masalah yang berkaitan dengan minat dan model pembelajaran.

D. Definisi Operasional:

1. Lesson study; Lesson study atau kaji pembelajaran telah dikenal sebagai suatu proses pembelajaran yang bahan ajarnya adalah pembelajaran itu sendiri atau belajar dari pembelajaran.

2. Rangka Hewan: susunan tulang hewan hasil rakitan sehingga terkonstruksi seperti aslinya/hidup.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Lesson Study

Lesson Study (or kenkyu jugyo) is a teaching improvement process that has origins in Japanese elementary education, where it is a widespread professional development practice. Working in a small group, teachers collaborate with one another, meeting to discuss learning goals, to plan an actual classroom lesson (called a "research lesson"), to observe how it works in practice, and then to revise and report on the results so that other teachers can benefit from it. Lesson study telah dikenal sebagai suatu proses pembelajaran yang bahan ajarnya adalah pembelajaran itu sendiri. Singkatnya lesson study adalah belajar dari pembelajaran. Kegiatan ini berpola dari apa yang kita 1) rencanakan bersama (PLANNING), 2) akan kita lakukan dan apa yang kita lihat/observasi bersama (DO) dan 3) refleksi apa yang kita observasi (See). Lesson study the Reel teacher professional forum, hal ini berdasar dari kolaborasi dari berbagai kelompok guru baik kelompok mata pelajaran yang sama maupun lintas kelompok mata pelajaran.

B. Media Pembelajaran

Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm 1977 dalam (Akhmad Sudrajat, 2008) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.

Allen mengemukakan tentang hubungan antara media dengan tujuan pembelajaran, sebagaimana terlihat dalam tabel di bawah ini :

Tabel 1. Hubungan antara media dengan tujuan pembelajaran

Jenis Media

1

2

3

4

5

6

Gambar Diam

S

T

S

S

R

R

Gambar Hidup

S

T

T

T

S

S

Televisi

S

S

T

S

R

S

Obyek Tiga Dimensi

R

T

R

R

R

R

Rekaman Audio

S

R

R

S

R

S

Programmed Instruction

S

S

S

T

R

S

Demonstrasi

R

S

R

T

S

S

Buku teks tercetak

S

R

S

S

R

S

Keterangan : R = Rendah S = Sedang T= Tinggi

1 = Belajar Informasi faktual, 2 = Belajar pengenalan visual, 3 = Belajar prinsip, konsep dan aturan, 4 = Prosedur belajar, 5= Penyampaian keterampilan persepsi motorik, 6 = Mengembangkan sikap, opini dan motivasi

Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Contoh : bila tujuan atau kompetensi peserta didik bersifat mengamati pergerakan suatu mahluk hidup yang membutuhkan waktu yang sangat besar dibanding waktu yang tersedia, maka digunakanlah film yang dipercepat atau media tiga dimensi yang dimniaturkan untuk pengamatan langsung diluar jam pelajaran. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Di samping itu, terdapat kriteria lainnya yang bersifat melengkapi (komplementer), seperti: biaya, ketepatgunaan; keadaan peserta didik; ketersediaan; dan mutu teknis.

Proses pembelajaran sebagai inti keseluruhan proses pembelajaran pada hakekatnya merupakan bentuk interaksi antar berbagai sumberdaya pembelajaran yang melahirkan suatu perubahan perilaku bagi peserta didik. Melalui pembelajaran inilah tercipta suatu kondisi interaktif antara berbagai komponen system pembelajaran yang melahirkan suatu perubahan perilaku bagi peserta didik. Melalui pembelajaran inilah tercipta suatu kondisi interaktif antar berbagai komponen system pembelajaran. Komponen itu me;iputi; peserta didik, pendidik(guru), materi maupun sarana pembelajaran (buku, media, meubel dll). Pada berbagai kajian empiris, dikemukakan bahwa keseluruhan komponen tersebut berkontribusi secara positif dan signifikan terhadap efektivitas pembelajaran, baik dari prosesnya maupun hasil-hasilnya.

Media pembelajaran sebagai salah satu jenis sarana pembelajaran memiliki fungsi ganda, yakni disamping sebagai alat Bantu pembelajaran juga sebagai sumber belajar. Sesuai dengan fungsinya itu, maka seyogyanya pemanfaatannya dalam proses pembelajaran harus dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan berbagai karakteristik yang melekat pada media pembelajaran itu sendiri.

C. Rangka Hewan sebagai Media Pembelajaran

Rangka hewan dideskripsikan sebagai susunan tulang hewan yang dirakit kembali sebagaimana waktu hewan tersebut hidup yang bertujuan untuk pengamatan:

a. Berbagai bentuk tulang hewan vertebrata

b. Mengamati letak tulang hewan,

c. Mengamati model dan adaptasi tulang pada hewan.

1. Pembuatan Alat Peraga Rangka Hewan

a. Alat dan bahan

Alat dan bahan yang dibutuhkan antara lain; tulang hewan (ayam, kucing, anjing) yang sebelumnya sudah dikubur 3 minggu atau tulang yang dipisahkan dari daging jika hewannya tidak dikubur (ayam). Seperangkat alat-alat masak, bor listrik, papan pijakan, kawat, karton manila, alat skop, kompor, 2 unit statif, air secukupnya, baskom, sabun batangan, pernis netral , lem keramik.

b. Cara Pembuatan

1) Persiapan

Rangka hewan yang dikubur tiga minggu sebelumnya digali kembali, pastikan alat berat tidak merusak salah satu tulang. Tercecernya potongan tulang sekecil apapun akan berakibat fatal pada proses penyusunan rangka, untuk menghidari tercecernya potongan kecil tulang, bangkai hewan dilapisi kantong plastik di dasar lubang kuburnya.

Prarekit Tengkorak anjing yang baru digali.

Gambar 1. Proses penggalian tulang hewan

 

Potongan tulang pipa dipisahkan dengan potongan tulang pendek dan dimasak dengan air sabun batangan. Proses ini berlangsung sampai 3-4 jam, jika tulang belum bersih dari sisa-sisa otot, tambahkan air + sabun batangan dan tunggu sampai 1-2 jam lagi. Setelah dianggap bersih tulang-tulang diangkat dan dianginkan sambil tetap dibersihkan secara fisik. Perlakuan yang sama terjadi pula pada tulang-tulang pendek dan pipih.

2) Penyusunan

Bagian tulang yang pertama disusun adalah susunan ruas tulang belakang, karena rangkaian tulang ini harus disesuaikan dengan lokasi leher, punggung, pinggang, kelangkang dan ekor. Rangkaian dihubungkan dengan kawat pada lubang sumsum. Pada bagian tengkorak kawat dilipat sedemikian rupa sehingga kawat tersangkut pada rongga tempat otak.

Rkt dgn siswa

Gambar 2 & 3. Proses penyusunan rangka hewan

Persendian dihubungkan dengan cara dibor dan dihubungkan dengan potongan kawat, sebelum kawat dipasang pada setiap lubang bor ditetesi lem keramik.

3) Penyelesaian

Rangka hewan yang semula ditopang statif diletakkan pada papan yang sudah dialasi karton manila lengkap dengan keterangkan gambarnya. Jika rangka sudah berdiri tegak maka selanjutnya adalah penyemprotan dengan pernis netral agar lebih mengkilap dan lebih awet dari serangga/bakteri.

Peny.1

Gambar 4. Penyelesaian rangka Kucing

Peny.2

Gambar 5. Penyelesaian rangka Ayam

Peny.3

Gambar 6. Penyelesaian rangka Anjing

2. Penggunaan Alat Peraga Rangka Hewan

Alat peraga rangka hewan pada dugunakan untuk mendukung materi mata pelajaran IPA khususnya Biologi. Kompetensi dasar sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah Mendeskripsikan sistem gerak pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan.

BAB III

OPEN KELAS DENGAN MEDIA RANGKA HEWAN

Jika anda mengetahui beberapa bunga tetapi belum menciumnya, maka anda belum mengenal bunga. Demikian kata pepatah, sebelum memfasilitasi rekan-rekan guru untuk berlesson study, fasilitator dulu sebagai piloting guru model. Hal ini untuk member jam terbang pada fasilitator, memberikan taktik dan trik yang dapat memotivasi rekan-rekannya untuk open kelas. Workshop fasilitator dilaksanakan segera setelah kembali dari daerah piloting lesson study yaitu kabupaten Pasuruan.

1. Plan

Planning lesson study pada hari kamis tanggal 7 januari 2009, pada kegiatan salah satu fasilitator harus sebagai guru model. Kegiatan selanjutnya adalah:

a) menentukan kelas lesson study, b) menyusun lembar observasi, c) membuat label/nomor siswa, d) menentukan denah siswa, e) penyusunan bahan ajar, f) penentuan media belajar, g) menentukan metode pembelajaran, h) observasi ruangan, i) melengkapi RPP (LKS).

Pada tanggal 10 Januari hari sabtu semua perangkat di faximile ke JICA untuk di translate guna keperluan tenaga ahli.

2. Do (Open Kelas)

DSCN1326

Open kelas dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 13 Januari 2009 jam 08.10 di laboratorium IPA Biologi. Ruangan Laboratorium ini terdapat 10 meja panjang dan 38 kursi kayu. Meja panjang yang terpakai siswa sesuai dengan jumlah kelompok yaitu 8 buah (2 meja depan dipakai untuk meletakkan sarana belajar lainnya). Media belajarnya berupa 3 buah rakitan rangka hewan yaitu rangka ayam, rangka kucing, rangka anjing serta dua buah model rangka manusia dari droping departemen pendidikan nasional. Semua rangka hewan diletakkan pada meja tinggi yang membatasi meja panjang. Kelas VIII.2 yang terpilih mempunyai 35 orang siswa dan konsep yang dibahas adalah SISTEM GERAK, rincian sebagai berikut:

a) pembelajaran dibuka dengan salam

b) guru mengechek kehadiran siswa, memeriksa kelompok, menata label siswa agar jelas terlihat oleh observer, menetralkan keadaan agar siswa tidak canggung pada observer.

c) guru memberi pengantar pembelajaran tentang aktivitas hidup misalnya aktivitas sebelum ke sekolah. Semua aktivitas ini menandakan bahwa ciri mahluk hidup, beberapa siswa dipancing untuk menyebutkan ciri-ciri lain mahluk hidup.

d) berangkat dari ciri yang disebutkan siswa guru mencoba membawa pikiran siswa ke salah satu ciri mahluk hidup yaitu bergerak. Indikator pembelajaran hari itu adalah (1) Membandingkan macam-macam organ penyusun sistem gerak pada manusia dan hewan vertebrata, (2) Mengelompokkan tulang berdasarkan bentuk, dan letaknya di dalam tubuh.

e) guru model memotivasi siswa agar hakikat bekerja dan belajar kelompok diperhatikan (jangan bekerja sendiri-sendiri) dan meneriakkan yel-yel. Guru berteriak “biologi…!” dijawab serentak oleh siswa “belajar hidup…!”, “biologi…!” teriak guru model dijawab oleh siswa “system gerak….”.

f) siswa bekerja dengan dituntun lembar kegiatan siswa (LKS) yang sudah dimiliki siswa, tiap kelompok mengivestigasi rangka yang menjadi tugasnya. Siswa mengisi LKS sesuai yang diamati karena tiap media diamati oleh dua kelompok, maka media tiga dimensi ini dapat diamati dari berbagai arah.

g) beberapa siswa kelompok V dan VI kesulitan menentukan tulang pendek pada ayam, kelompok I dan II mengamati model rangka manusia pada 10 menit pertama tidak mengalami kesulitan berarti.

h) tiap sepuluh menit siswa akan berputar untuk mengamati media berikut, sehingga dibutuhkan waktu sekitar 40-45 menit untuk pengamatan.

i) selesai mengamati, siswa menjawab beberapa soal dari LKS kemudia mengelaborasi hasil kegiatannya pada whiteboard.

j) guru model memberi penguatan dan menyimpulkan pembelajaran dan member tugas pada siswa untuk keperluan pembelajaran selanjutnya.

BAB IV

REFLEKSI OPEN KELAS DENGAN MEDIA RANGKA HEWAN

Reflksi

A. Rerfleksi Open Kelas dengan Media Rangka Hewan

Refleksi dari hasil observasi open kelas segera dilaksanakan setelah pembelajaran selesai, rinciannya sebagai berikut:

Hari/Tanggal : Selasa, 13 Januari 2009

Waktu : pukul 10.50 – selesai

Tempat : Aula SMPN 1 Barru

Moderator :Amirullah Abdullah, S.Pd. (kepala SMPN 1 Barru)

Peserta/observer:

1. kandidat fasilitator lesson study kecamatan Balusu, kecamatan Mallusetasi, kecamatan S. Riaja

2. Pengawas SMP/SMA kabupaten Barru

3. anggota Dewan Pendidikan kabupaten Barru merangkap konsultan lapangan Prima Pendidikan

4. Kepala-kepala sekolah se SMP di kabupaten Barru

5. Tim ahli dari JICA.

I. Acara dibuka oleh Moderator dengan ucapan Basmalah

II. Perkenalan Peserta Workshop dipandu oleh moderator

III. Moderator mengajak semua peserta untuk member uplause pada guru model dan mempersilahkan mengutarakan kesannya sebagai guru model.

Guru Model:

- ada tantangan/hambatan pembelajaran pada hari-hari pertama setelah libur,

- berusaha mengendalikan perhatian siswa yang kadang memperhatikan observer karena sesuatu yang baru telah terjadi.

- Tujuan pembelajaran kita hari ini adalah:

  1. Menyebutkan alat gerak pada manusia.
  2. Menyebutkan macam-macam tulang berdasar bentuknya pada manusia dan hewan vetebrata.
  3. mengelompokkan tulang berdasarkan letaknya
  4. Menyebutkan 2 macam tulang bersdasarkan sifatnya

Ada kendala untuk menjawab LKS karena pengembangan dari materi dan tujuan pembelajaran terutama bentuk tulang pipa betis ayam dengan manusia, karena posisi betis berbeda. Siswa masih menganggap bahwa bagian kaki ayam yang bersisik adalah betis yang seharusnya tulang telapak kaki (ayam berdiri dengan menggunakan jari-jari kaki).

- membiasakan siswa dengan atribut/label yang digantung dileher

- siswa kelihatannya takut/segan menyentuh media

Moderator: Guru model tampil dengan prima/maksimal pada hari ini.

Refleksi :

1. Dahliah, S.Pd. (Fasilitator LSBS SMPN 1 Barru)

- tertarik dengan arahan guru model yang telah membelajarkan siswa dan disukung media yang tersedia,

- kelompok II pada awal pembelajaran, sangat berhati-hati sehingga kelihatan segan menyentuh media,

- siswa telah belajar materi yang diajarkan

2. Zainal Abidin, S.Pd. (Fasilitator LSMGMP IPS Kec. Barru)

- guru model tampil dengan baik, siswa dari kelompok II (no.6=Faisal) tidak memperhatikan topic materi.

3. Hj. Junaiah, S.Pd. (Fasilitator LSMGMP IPA Kec. Barru)

- Topik pembelajaran semua sudah disajikan, tetapi siswa no.3 (Muh. Farid) hamper tidak pernah melihat ke media yang disediakan.

- No. 27 (Musrifana Muhiddin) tidak memperhatikan media tetapi hanya menulis terus.

4. Supriyanto, S.Pd. (Fasilitator LSBS SMPN 1 Barru)

- siswa belajar aktif secara umum, namun no. 7 (Faturrahman) kadang-kadang melamun/menerawang, No.6 (Faisal B.) tertawa, menjatuhkan pulpen.

5. Lukman Z., S.Pd. (Kepala SMPN 1 Balusu)

- Tujuan pembelajaran 1-3 berjalan dengan baik karena guru model tampil baik, masih ada siswa yang belum siap pada kelompok VI no. 26 tidak belajar dengan baik/tidak perhatikan pelajaran.

6. Fatimah Abu, S.Pd. (Kandidat Fasilitator TPK Balusu)

- guru model tampil sehingga menghasilkan pembelajaran yang bermutu bagus,namun siswa no 7 (Faturrahman) kurang bersemangat, kurang berinteraksi dengan tim kelompoknya.

7. Sarwan, S.Pd. (Kandidat Fasilitator TPK Mallusetasi)

- kelompok II tidak memperhatikan pelajaran, kelompok VI ada siswa yang pintar, interaksi kelompok ini baik, siswa saling bertanya jawab.

8. Suharmin, S.Pd., M.Pd. (Kandidat Fasilitator TPK Mallusetasi)

- siswa belajar aktif dengan cara sendiri-sendiri/spesifik, Cuma ada yang cepat ada yang lambat.

9. Zainal Abidin, S.Pd.

- secara umum pembelajaran kelihatan bagus, hanya sebagian yang tidak aktif itupun hanya saat-saat tertentu, No. 31 kelompok VII tidak mengikuti dengan baik pelajaran pada awal pembelajaran, namun kelihatannya anak tersebut cerdas karena pada kegiatan inti, aktif membimbing temannya.

10. Abdul Zakaria (Guru Model)

- inilah hakekat lesson study, hal-hal yang tidak sempat saya perhatikan dapat teramati oleh observer, segala masukan dari observer sangat berarti untuk perbaikan pembelajaran ini lebih lanjut.

11. Zainal Abidin, S.Pd.

- media sangat menarik, tapi siswa no.4 kelompok II kurang memperhatikan media tersebut serta interaksi antar siswa kurang. Tidak terjalin interaksi antar kelompok terlihat pada presentasi siswa, tidak ada kelompok lain yang menanggapi presentasi tersebut. Pada umumnya kelompok lain sudah terjalin interaksi dalam kelompok (selain kelompok II)

12. Supriyanto, S.Pd.

- siswa no.7 kelompok II tidak pernah berinteraksi dengan teman lain walau kadang main tapi tetap aktif, pada kelompok V tidak ada interaksi siswa dengan siswa, reward/penghargaan tidak tampak jelas karena tidak ada evaluasi.

13. Hj. Junaiah, S.Pd.

- No. 12 terpisah dari kerja kelompok, seakan-akan membentuk kelompok lain, kelompok V aktif mengamati, kerja LKS tapi tidak interaksi dengan teman kelompok.

14. Dahliah, S.Pd.

- beberapa saat saya focus pada kelompok II dan didapati siswa no 6 bekerja dengan meniru.

15. Dra. Maryuni (guru Bimbingan Konseling=BK)

- rekan-rekan banyak menyoroti siswa no.6, anak tersebut cerdas ≈ hiper aktif. Siswa no.7 juga pintar type anak tersebut memang pendiam, jadi interaksi dengan teman kurang karena tidak banyak bersosialisasi.

16. Moderator: mendukung data dan membenarkan tanggapan guru BK.

17. Zainal Abidin, S.Pd.

- kecerdasan anak yang bersangkutan dapat dimanfaatkan untuk membimbing teman-temannya (tutor sebaya)

18. Bakri, S.Pd. (Kandidat Fasilitator TPK Balusu)

- siswa no.7 kurang akatif

19. Lukman Z., S.Pd.

- siswa no.6 langsung kerja LKS, tidak cari di media dan hanya berinteraksi dengan LKS (materi) tetapi tidak berinteraksi dengan media.

- siswa banyak disoroti hari ini yaitu; no.6,7, dan 26 merupakan PR bagi guru-guru SMPN 1 Barru.

20. Usman, S.Pd., M.Pd (Kandidat Fasilitator TPK S. Riaja)

- pada jam 10.15 saya berada pada kelompok VI dan mengamati pula kelompok VII, siswa nomor 24 tidak berinteraksi dengan teman kelompok,

- semua sibuk dengan LKS masing-masing, sebaiknya 1 LKS untuk setiap kelompok.

21. H. Darman, S.Pd. (Kepala SMPN 2 Barru)

- usul agar membahas lembar observasi nomor 4 sampai dengan 11 mengingat waktu dan tentunya ada tanggapan dari tim ahli Jica.

22. Drs. Umar M., MM. (Pengawas SMP/SMA Kabupaten Barru)

- siswa no.16 pasif (diam) walaupun teman-temannya aktif, untuk nomor 14 lain lagi masalahnya yaitu kepala rapat dengan tangan pada saat menulis,

- pada pree tes, ada siswa yang sebenarnya mampu menjawab tapi tidak diberi tenggang waktu untuk menjawab hingga tercetus ungkapan nada ‘kesal’.

23. Dra. Maryuni

- siswa yang bertingkah kikuk, mungkin merasa tersoroti oleh banyak orang.

24. Abdul Zakaria, S.Pd.

- kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-temannya dalam kelompok sudah diberikan, namun siswa membiarkan diri terlambat. Untuk kelompok yang terpecah (seakan-akan terbentuk kelompok kecil) akan dipertimbangkan jumlah anggota dalam kelompok misalnya 3 orang dalam satu kelompok.

25. Zainal Abidin, S.Pd.

- siswa no.21 sangat baik menyampaikan presentasi hasil kelompok,

- sebaiknya presentasi kelompok disampaikan di depan kelas agar siswa tidak usah menengok ke belakang dan dapat berinteraksi dengan kelompok lain, siswa kurang memperhatikan media (unsure kontekstual) dan hanya aktif dengan LKS,

- poin 11 lembar observasi; guru model telah tampil dengan bagus, pembelajaran menggunakan media interaktif dan komunikatif.

26. Hj. Junaiah, S.Pd.

- interaksi siswa dengan guru bagus, siswa dengan media bagus (walau masih ada yang belum maksimal), siswa diam belum tentu menghayal tetapi kadang berfikir/mengingat-ingat penjelasan. Manfaat yang dipetik dari pembelajaran kita hari ini adalah; menyadari bahwa membelajarkan siswa harus menempuh berbagai teknik pembelajaran.

27. Suharmin, S.Pd., M.Pd.

- kelompok 5 tidak memperhatikan media (ini PR untuk kita semua)

- siswa no.26 melamun à berfikir, kesulitan untuk membahasakan apa yang harus ditulisnya, dipelajari, menyadari pembelajaran yang baik tetap ada kekurangan, tidak pembelajaran yang sempurna

28. Bakri, S.Pd.

- pengurangan LKS menjadi 1 tiap kelompok jika kelompoknya kecil (3 orang), kita telah banyak memperoleh pelajaran dari pak Zakaria (guru model kita hari ini.

29. Lukman Z., S.Pd.

- interaksi siswa, media, guru kedengarannya mudah tapi kenyataannnya sulit, interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan media sangat sulit di lakukan dalam Laboratorium terlebih dengan banyak macam media (campuran).

30. Hj. Seniarti, S.Pd. (Kandidat Fasilitator TPK Balusu)

- interaksi siswa dengan media kurang, disebabkan perhatian siswa terpecah

- ada session guru model memotong pembicaraan siswa, sebaiknya siswa dibiarkan dulu selesai bicara,

- untuk lebih mengaktifkan siswa, sebaiknya siswa diminta langsung menunjuk pada media sebagai jawaban pertanyaan,

- saya pribadi mengagumi keterampilan guru model yang tampil maksimal walau baru saja masuk sekolah setelah libur.

31. H. Darman, S.Pd.

- Harapan agar pak Zakaria (guru model) untuk mengulang peristiwa 12 tahun yang lalu untuk merakit rangka hewan terjadi juga pada guru-guru biologi yang lain, agar medianya menjadi lebih banyak.

32. H. Abdullah Rahim, BA. (sesepuh SMPN 1 Barru, Ketua PGRI, Peng. Dewan Pendidikan, kons. lapangan Prima Pendidikan Kab. Barru)

- pembelajaran kita hari ini sangat memuaskan, karena bukan pak Zakaria kalau tidak maksimal, untuk itu saya ingin melemparkan pertanyaan kepada ananda pak Zakaria untuk kita simak bersama:

1. apakah pak Zakaria mengajar atau membelajarkan

2. apakah tujuan belajar tadi,

3. apakah siswa yang aktif atau guru yang aktif,

4. penampilan guru yang menarik atau bahan ajarnya

5. apakah guru membangkitkan motivasi belajar siswa,

6. apakah RPP (alangkah-langkah pembelajaran) konsisten

7. apakah terjadi evaluasi proses untuk melihat hasil.

33. Abdul zakaria, S.Pd. (guru model)

- sesuai dengan planning bersama kolabor, saya berusaha untuk membelajarkan siswa, dan untuk memotivasi siswa menggunakan waktu 10 menit dan ini lebih lama dari biasanya karena awal masuk sekolah setelah libur,

- untuk memfokuskan perhatian siswa, lebel (A,B, ….) pada media dan keterangan pada media belajar akan menjadi prioritas pembelajaran selanjutnya,

- perlunya menanamkan sikap pada siswa untuk mau belajar karena keinginan dalam diri siswa karena tidak ada yang dapat belajar untuk kepentingan orang lain,

- mewakili rekan-rekan saya berusaha untuk selalu mengaktifkan dengan usaha maksimal dan menampilkan bahan ajar yang menarik dan bukan gurunya yang menarik perhatian siswa karena guru bukan sesuatu yang akan dipelajari.

- siswa dimotivasi dengan merelevansi dengan kehidupan nyata guna membangun pembelajaran bermakna dan kalau perlu teriakkan yel-yel untuk membangkitkan semangat dan perhatian,

- implementasi RPP berusaha diimplementasikan secara konsisten, di sisi lain di dalam Laboratorium banyak aturan yang perlu diperhatikan siswa,

- jika ada yang belum tampak sesuai keinginan kita semua, itulah potert pembelajaran kita, tidak ada pembelajaran yang sempurna.

34. Yoshi Tanaka dan alih bahasa Nitasari dan kawan-kawan (Tim ahli JICA)

- mengucapkan banyak terima kasih atas komentar-komentar observer, demikian pula pada ucapan terima kasih atas kerja keras guru model dan kolabornya yang hari ini sepertinya mengalami banyak tekanan,

- hari ini adalah training kedua, training pertama pada saat di Pasuruan dan perlu diluruskan refleksi kita yang utama 1) “you didn’t critized the model teacher, 2) satu hal yang harus diingat dalam refleksi ini, kebanyakan komentar observer pada sikap/tingka laku siswa dan bukan pada pembelajaran siswa, 3) seharusnya pembicaraan focus pada:

a) apakah siswa mengerti topic yang dibawakan atau tidak, kalau tidak apa masalahnya,

b) kalau tidak ada interaksi, memang belum ada

- komentar; analisa kebiasaan pembelajaran kita hari ini dan bukan pada “pembelajaran siswa itu sendiri”

- di Jepan pernah terjadi hal serupa yaitu membahas secara detail kebiasaan siswa tapi itu bukan lesson study.

- ingat selalu bahwa, fokuslah “apakah siswa mengerti pembelajaran atau tidak”,

- refleksi selanjutnya diharapkan lebih terarah dan komentar selanjutnya didiskusikan dari point 1 sampai 11 secara keseluruhan (menyeluruh) tidak terpisah-pisah.

35. Zainal Abidin, S.Pd.

- apakah boleh merefleksi latar belakang peserta didik?

36. Yoshi (JICA)

- yang terpenting, apa yang kita “amati”, adapun latar belakangnya bias merupakan alasan mengapa siswa itu demikian.

- dalam refleksi; harus membuat komentar secara keseluruhan dan tidak disekat 3 sampai 4 poin, sehingga observer sepertinya 3 kali berbicara untuk sampai pada 11 pion/item lembar observasi. Perlu diingat bahwa dalam berkomentar harus selalu berdasar fakta, bukan opini. Lembar observasi menjadi bukti apa yang diamati jika belum ada alat dokumen lainnya.

- tidak perlu mengungkap satu persatu apa yang ditulis dalam lembar observasi tapi membuat kesimpulan secara keseluruhan apa yang diamati.

37. Zainal Abidin, S.Pd.

- tolong dijelaskan teknis lesson study agar arah lesson study lebih terarah ke depan.

38. H. Abdullah Rahim, BA.

- masalah dalam kegiatan ini yang perlu segera dipecahkan adalah mengatasi kelas kosong/tidak belajar karena gurunya tergabung dalam kegiatan lesson study.

39. Yoshi (JICA)

- setiap sekolah mempunyai cara sendiri untuk mengatasi masalah kelas atau siswa tidak belajar karena gurunya mengikuti kegiatan lesson study, pada kondisi khusus dapat melaksanakan lesson study open kelas pada sore hari,

- sekarang mari kita ke proses pembelajaran kita hari ini, setidaknya ada 3 hal yang perlu disoroti:

1) selama awal pembelajaran seluruh siswa antar ras mengikuti pembelajaran tapi pada akhir pembelajaran kurang konsentrasi, kita perhatikan tayangan atau dokumen elektronik.

Mengapa hal ini bias terjdi?

2) interaksi para siswa dan interaksi antara group dengan group lain kurang bagus, mengapa/apa masalahnya?

3. hal yang perlu disoroti mengenai pembelejaran hari ini; a) awal konstrasi tapi akhir tidak konsetrasi, b) setelah 20 menit berlangsung kebanyak belum mengisi LKS, mungkin masa observasi terlalu lama.

- apakah interaksi sudah berarti mengerti dengan baik atau tidak?,

- mungkin dengan mengobservasi, mungkin bias mengerti dengan baik maka tidak perlu ada interaksi antar siswa,

- apakah jika siswa tidak punya interaksi, pelajaran tetap bisa berhasil?

- pengalaman pribadi; jika masa observasi cukup, maka interaksi tidak terlalu dibutuhkan,

- tujuan pembelajaran dalam RPP (2 dan 3) bukan tujuan utama, yang menjadi tujuan utama dalam konsep ini adalah tujuan 4, 5.

- waktu pembelajaran yang hanya 80 menit cukup sempit untuk banyak tujuan pembelajaran, jadi lakukan aktivitas yang penting-penting saja tidak perlu terlalu banyak (sederhana).

40. Supriyanto, S.Pd.

- apakah perlu memberi evaluasi setiap selesai pembelajaran.

41. Yoshi Tanaka

- evaluasi tidak terlalu penting untuk setiap pembelajaran sebab dengan memperhatikan body lingua (gerak-gerik, mimic, interaksi) maka guru akan tahu apakah mengerti pelajaran atau tidak (membuat skor tiadk terlalu penting, memerlukan waktu lama).

- mengecek benar-salah pekerjaan (LKS) siswa untuk member informasi mengapa salah, di mana kesalahannya?

- tujuan pembelajaran terlalu banyak, biasanya 2 dan paling banyak 3 tujuan pembelajaran.

42. Moderator; mengajak para hadirin untuk sekali lagi member up louce untuk guru model kita hari ini, dan sekalian up louce untuk semua atas kegiatan yang telah dilaksanakan. Setelah mengucapkan terima kasih pada semua pihak, moderator mempersilahkan bapak Drs. Sereng untuk membacakan do’a.

B. REFLEKSI TRAINING FASILITATOR LESSON STUDY

Sebelum fasilitator open kelas, diadakan pelatihan fasilitator selama 2 jam. Kegiataan berlangsung selama 4 kali dalam kurun waktu 4 bulan yaitu Januari sampai April. Materi yang dibahas pada pelatihan selain sharing dari dosen-dosen yang berpengalaman dari UNIMA (Malang) yang tidak kalah penting adalah merefleksi segala aktivitas fasilitator dan kandidat fasilitator pada kegiatan lesson study sebelumnya.

a. Beberapa contoh isi materi pelatihan lesson study pada pelatihan fasilitator sebagai berikut:

1. DO (open kelas)

Masih ada beberapa masalah pada saat do:

- para observer tidak menaruh konsentrasi perhatian mereka terhadap pembelajaran siswa; pada awal pembelajaran dan pertengahan hingga akhir pembelajaran,

- observer merasa lelah; bertumpu di bangku, bersandar di tembok, duduk di kursi siswa.

- observer mengganggu siswa pada saat siswa belajar; mengobrol, mengambil buku pelajaran dari siswa, membantu siswa dalam kerja kelompok.

2. See (Refleksi)

Masih ada masalah pada saat see:

- ada observer tidak memberikan komentar mereka

- komentar dibuat hal demi hal berdasarkan poin-poin yang ada dalam lembar observasi, lebih bagus summery dari pengamatan sekalian diungkap,

- komentar tidak berupa analisa pembelajaran, namun kadang prilaku siswa atau pernyataan fakta tanpa analisa lebih lanjut,

- observer sering mengkritik guru model tanpa alas an yang jelas,

- observer sering member saran tanpa bukti yang jelas.

b. contoh-contoh kritikan dan saran:

- “guru tidak boleh memotong pembicaraan siswa pada saat mereka meakukan presentase”.

- “guru tidak menjelaskan prosedur dengan jelas”.

- “guru menuliskan tujuan pembelajaran dengan tulisan yang terlalu kecil di papan tulis, sehingga sulit dibaca”.

- “guru seharusnya menggunakan materi yang lebih nyata selama pembelajaran”.

- “guru seharusnya memberikan LKS untuk setiap siswa, bukan hanya satu LKS perkelompok atau sebaliknya”.

- “pada saat pembentukan kelompok, guru seharusnya mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa”.

c. Cara Mengobservasi Pembelajaran

- pada saat memasuki ruang kelas, perhatikanlah seluruh wajah dan prilaku siswa secara seksama.

- carilah satu atau dua orang siswa yang mennjadi pusat perhatian anda,

- berdirilah di tempat di mana anda dapat mengobservasi mereka lebih jelas,

- berfokuslah pada prilaku pembelajaran mereka untuk sesaat,

- jika mereka dapat belajar dengan baik, carilah siswa lain yang dapat anda perhatikan,

- pada saat siswa mulai kehilangan konsentrasinya, pikirkan mengenai alasannya karena proses pengajaran mungkin mengalami masalah,

- simaklah dengan seksama apa yang siswa perbincangkan pada saat mereka mengerjakan tugas kelompok,

- simaklah dengan seksama, apa yang sedang siswa lakukan atau tulis selama mereka mengerjakan tugas kelompok,

- jika mereka tidak bekerja dengan benar, pikirkan kembali tujuan pembelajaran dan tujuan guru. Mungkin ada masalah pada instruksi guru, mungkin ada masalah pada RPP.

d. Cara Merefleksi Pembelajaran

1) Guru Model: jelaskan tujuan pembelajaran, jelaskan hal-hal utama yang telah diberikan/usaha terbaik dalam pembelajaran. Menyebutkan apa yang berlangsung dengan baik dan apa yang sulit dalam pengajaran. Tidak berbincang-bincang selama refleksi, cukup dengarkan dengan seksama komentar-komentar dari observer.

2) Moderator: jangan memberikan komentar, jangan berbicara terlalu banyak, berikan kesempatan bagi seluruh observer untuk memberikan komentarnya. Moderator cukup berkata “silahkan, observer berikutnya”, dan komentar tadi bukan pembelajaran hari ini. Anda dapat mengungkapkannya kemudian. Saat ini silahkan berkomentar tentang pembelajaran hari ini dan berfokuslah pada pembelajaran siswa”.

3) Observer: berfokus pada proses pembelajaran dan tingkat pemahaman mereka,menjelaskan tentang tingkat pemahaman siswa berdasarkan fakta yang diobservasi. Komentar seharusnya merupakan hal yang dapat menjadi tips bagi guru model untuk meningkatkan pembelajarannya.

Contoh yang buruk: (1) “interaksi di dalam kelompok sudah baik, namun interaksi antar kelompok belum cukup”. (2) “siswa no.6 tidak berkomunikasi dengan siswa lainnya”. (3) “siswa no.26 memiliki motivasi yang rendah”. (4) interaksi antara siswa dengan materi belum cukup baik. Sehingga, guru harus meningkatkan materinya”.

Contoh yang baik: (1) “siswa nampaknya belum mengerti dengan baik apa yang harus dilakukan pada awal kerja kelompok, karena saya piker, intruksi yang diberikan guru belum cukup jelas”. (2) “dua orang di kelompok 5 tidak dapat berpartisipasi dalam pembelajaran, karena hanya ada satu LKS perkelompok dan LKS ini dikuasai oleh dua anggota kelompok yang lain”.

4) Lembar Observasi : lembar observasi hendaknya berisi tentang pertanyaan-pertanyaan yang tertuju pada kegiatan siswa dan sedikit untuk guru model. Contoh (1) apakah siswa memahami topic pembelajaran?. (2) siswa mana yang tidak dapat belajar dalam pembelajaran hari ini?. (3) mengapa anda piker siswa tersebut tidak dapat belajar dalam pembelajaran? (4) dengan tujuan untuk memfasilitasi pembelajaran siswa, cara dan alat apa yang diusahakan oleh guru model? Apakah hal tersebut berhasil?

e. Kecenderungan yang Patut Dijaga Agar tidak Terjadi

1) Komentar berdasarkan fakta: “siswa no.XX kehilangan kosentrasi, tidak aktif, hanya menyalin jawaban, tidak tertarik dengan pembelajaran di dalam kelas, dan lain-lain”. Komentar seperti ini tidak lengkap, penambahan mengapa demikian? Bagaimana memperbaikinya? Sangat ditunggu.

2) “Siswa yang tidak baik, bukan saya”: siswa no.XX memiliki perilaku yang tidak baik dan masalah pribadi, dan siswa ini tidak aktif di kelas manapun (komentar semacam ini merupakan pendapat yang tidak professional. Perlu diketahui bahwa guru merupakan satu-satunya pedoman bagi siswa untuk belajar, jika guru terus-menerus melaksanakan pembelajaran yang membosankan dan tidak mengubahnya, maka sangatlah lazim jika memiliki siswa yang “tidak baik” semacam itu. Olehnya itu pikirkan apa yang dapat anda dan rekan anda lakukan di dalam/di luar kelas?

3) Tujuan pembelajaran dan pembelajaran siswa dianggap sama: tujuan pembelajaran siswa dapat menafsirkan table. Jika sudah dapat menafsirkan apa yang terjadi selanjutnya?. Pembelajaran ini dilaksanakan terlalu langsung kepada tujuan pembelajaran dan berakhir dengan hasil seperti ini.

4) Siswa belajar identik siswa menghapal, tujuan pembelajaran dan pembelajaran siswa dianggap sama, kuis untuk siswa?. apa yang dipelajari/dipahami tidakkah guru membuat “pembelajaran” menjadi sekedar menghapal/sekedar menjelaskan/sekedar memberikan jawaban yang tepat?. Hal-hal tersebut hanyalah sub-produk (hasil sampingan) dari pembelajaran. lalu, apa hasil utama dari pembelajaran?

5) Bukanlah hal yang baik jika siswa menyalin jawaban dalam kerja kelompok: saat ini pencarian jawaban yang tepat dan langsung jadi dari buku teks bersama-sama, hanya siswa yang pintar yang bias melakukannya, sementara yang lain hanya siap menyalin dan tertinggal di belakang.

6) Open kelas yang tidak dilaksanakan sesuai rencana merupakan hal yang buruk.

Untuk membuat ringkasan (summary) tentang kegiatan dan pencapaian kelompok lesson study serta membuat rekaman/laporan agar dapat dimanfaatkan di kemudian hari, sekolah mengumpulkan RPP research lesson yang telah dibuat sepanjang tahun, data serta catatan hasil observasi, sampel-sampel pekerjaan siswa, catatan hasil diskusi, dan refleksi mengenai kegiatan lesson study untuk dijadikan sebagai laporan akhir. Rekaman ini menjadi resources yang penting bagi para guru untuk memperbaiki praktik pembelajaran mereka di kemudian hari. Di Jepang sekolah-sekolah membuat laporan lesson study semacam ini yang kemudian disimpan di sekolah, di dewan pendidikan dan pusat-pusat pendidikan. Laporan-laporan ini seringkali dibagi-bagikan ketika ada penyelenggaraan lesson study open house dan dihadiahkan kepada tamu-tamu penting yang berkunjung ke sekolah. Di Jepang, guru-guru menerbitkan banyak buku studi kasus tentang lesson study, yang juga tersedia di toko-toko buku besar (Mikoto Yoshita dalam Muklas).

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Tulisan ini merupakan narasi dari pelaksanaan Lesson Study di kecamatan Barru kabupaten Barru berbasis MGMP (LSMGMP) yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

1) Pemanfaatan media rangka hewan untuk open kelas mata pelajaran biologi sangat merangsang minat interaksi siswa pada umumnya, kebermaknaan yang menjadi tantangan bagi siswa untuk mempelajarinya. Namun efisiensi dan efektifitas media tidak selalu berfungsi maksimal untuk setiap siswa.

2) Pembelajaran yang diperoleh setelah terlibat dalam forum lesson study yaitu 1) rekan guru masih banyak yang berkomentar sesuai opini, belum pada fakta, 2) komentar yang dikeluarkan dan merupakan masalah pembelajaran belum dianalisa mengapa masalah itu muncul, 3) sangat sedikit observer member solusi pada susatu permasalah pembelajaran. mungkin ini terjadi karena open kelas ini baru pertama kalinya di kabupaten Barru.

B. Saran-Saran

Lesson study telah menggeser paradigm beberapa rekan bahwa buka siswa yang bodoh, kita mungkin yang belum maksimal membelajarkan. Berbagai analisa pembelajaran telah membuka wawasan rekan guru tentang masalah pembelajaran. untuk itu penulis menyarankan hal-hal sebagai berikut:

1) setiap sekolah melaksanakan lesson study minimal satu kali sebulan open kelas.

2) lesson study dengan tiga tahapannya membutuhkan waktu, tenaga dan biaya lumaya, tapi inilah inservis training yang termurah.

3) lesson study terakomodir dalam pelaksanan beban kerja 24 jam sebagaimana team teaching pada Permen No. 39 Tahun 2009.

 

FOTO KEGITAN OPEN KELAS DENGAN MEDIA RANGKA HEWAN

Open Kelas

OPEN KELAS DENGAN MEDIA RANGKA HEWAN

 

FOTO KEGITAN REFLEKSI LESSON STUDY

Alur LS

TIM JICA, DEWAN PENDIDIKAN, PENGAWAS, OBSERVER MENGADAKAN REFLEKSI

Daftar Pustaka / Rujukan

1. Depdiknas. Dirjen Pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.Materi Pelatihan Terintergrasi SAINS, 2004

2. Lesson Study\duniaguru_com - Lesson Study Biologi di SMAN 9 Bandung.htm

3. Norimichi Toyomane.2009.Makalah Training Fasilitator Lesson Study.(tidak diterbitkan).

4. Zakaria.2009. Beban Kerja tantangan Lesson Study.Zakaria71.blogspot.com.htm

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar