Minggu, 25 April 2010

BAHAN AJAR DAN PENDIDIKAN GRATIS

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Kualitas pembelajaran diwarnai oleh banyak faktor seperti pendidik (guru), siswa, komite, sarana dan prasarana, lingkungan dan manajemennya. Namun pada kesempatan ini hanya akan dilihat dari segi sarana dan prasarana, pendidik (guru) dan siswa saja sebagai tiga komponen yang sangat rutin berinteraksi, dengan tidak mengesampingkan komponen atau faktor-faktor yang lain.

Sangat ironis dalam penyelenggaraan KBK dan KbkTSP (baca: KTSP) dengan anggaran yang membludak dari pemerintah, banyak siswa SMP belum tersentuh buku paket/teks yang sesuai KTSP sebagai salah satu sumber belajar di rumah. Siswa cendrung kurang termotivasi dan berinisiatif mengadakan sendiri buku cetak karena toko buku hanya ada di ibukota provinsi yaitu Makassar yang berjarak 100 Km. Fenomena inilah yang menantang penulis untuk membuat penuntun belajar IPA biologi untuk di copy siswa. Tetapi masalahnya muncul setelah pengadaan penuntun belajar adalah menjelaskan proses yang tidak dapat diamati dilingkungan, misalnya proses pembuahan, bentuk sel sperma dan telur manusia, proses pertumbuhan zigot hingga menjadi bayi dan lain sebagainya. Berbicara tentang materi pelajaran respon siswa sangat vakum tetapi jika menyerempet tentang tayangan televisi responnya sangat ramai. Alur cerita sinetron sangat dipahami sampai iklan-iklannya. Iklan yang hanya berdurasi sekian detik begita menarik perhatian siswa.

Sekolah menengah pertama di Barru sesuai standar sarana telah memiliki media VCD Player, pesawat televisi, beberapa CD pembelajaran bantuan maupun hasil burning CD original dari rekan penulis, kelemahan CD pembelajaran adalah materinya sangat luas sehingga lebih cocok untuk materi pengayaan. Andaikan semua materi disinetronkan mungkin daya serap siswa akan lebih baik, namun hal itu mustahil. Tayangan dengan durasi 20-30 menit saja belum tentu efektif karena alur ceritanya hanya beberapa bagian yang menarik. Alur cerita yang menarik inilah yang dicut berupa cuplikan film yang berdurasi hanya beberapa detik sampai 2 menit saja untuk ditayangkan dan selanjutnya diinteraksikan pada proses belajar mengajar. Inilah sedikit gambaran bahan ajar yang penulis kembangkan di tempat tugas penulis.

  1. PERMASALAHAN

    Permasalahan pada bahasan ini adalah:

    1. apa peranan bahan ajar terhadap peserta didik?
    2. bagaimana membuat suatu bahan ajar?
    3. bagaimana dampak pendidikan gratis terhadap ketersediaan bahan ajar

BAB II

BAHAN AJAR DAN PENDIDIKAN GRATIS

  1. Bahan Ajar

    Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.

    1. Bentuk Bahan Ajar

    1. Bahan cetak seperti; hand out, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart,
    2. Audio Visual seperti; video/film,VCD
    3. Audio seperti; radio, kaset, CD audio, PH
    4. Visual: foto, gambar, model/ maket.
    5. Multi Media; CD interaktif, computer Based.

    2. Cakupan Bahan Ajar

    1. Judul, MP, SK, KD, Indikator, Tempat
    2. Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
    3. Kompetensi yang akan dicapai
    4. Informasi pendukung
    5. Latihan-latihan
    6. Petunjuk kerja
    7. Penilaian

      3. Penyusunan Peta Bahan Ajar:

4. Peran Bahan Ajar

  • Siswa dapat belajar tanpa harus ada guru atau teman.
  • Siswa dapat belajar kapan & di mana saja.
  • Siswa dapat belajar dengan kecepatannya masing-masing.
  • Siswa dapat belajar melalui urutan yang dipilihnya sendiri.
  • Membantu mengembangkan potensi siswa untuk menjadi pembelajar mandiri.
  • Pedoman guru dalam mengarahkan semua aktivitas pembelajaran (substansi kompetensi yg seharusnya diajarkan ke siswa).

5. Manfaat Bahan Ajar

  1. Membantu guru dalam proses pembelajaran.
  2. Guru tidak perlu terlalu banyak berceramah dalam menyajikan materi di kelas.
  3. Guru mempunyai lebih banyak waktu untuk memberi bimbingan kepada siswa.
  4. Siswa tidak terlalu tergantung kepada guru sebagai satu-satunya sumber informasi.

Lembar Kegiatan Siswa (LKS)

Bentuk bahan ajar sederhana yang kemungkinan terbuka untuk dilaksanakan oleh semua guru yaitu Lembar Kegiatan Siswa. Lembar Kegiatan Siswa (student work sheet) adalah lembaran-lembaran berisi petunjuk, intrupsi, tugas/kegiatan yang harus dikerjakan oleh siswa.

  • Lembar kegiatan berisi petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas.
  • Lembar kegiatan dapat digunakan untuk semua mata pelajaran.
  • Tugas-tugas yang yang diberikan kepada siswa dapat berupa teoritis dan atau tugas-tugas praktis.

Langkah-langkah penulisan LKS sebagai berikut:

  • Melakukan analisis kurikulum; SK, KD, Indikator dan materi pokok.
  • Menyusun peta kebutuhan LKS
  • Menentukan judul LKS
  • Menulis LKS
  • Menentukan alat Penilaian

Struktur LKS secara umum adalah sebagai berikut:

  • Judul, Mata Pelajaran, Semester, Tempat
  • Petunjuk belajar
  • Kompetensi yang akan dicapai
  • Indikator
  • Informasi pendukung
  • Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja
  • Penilaian
  1. PENDIDIKAN GRATIS

Serangkaian tugas pokok guru memang membutuhkan waktu dan keahlian lebih dan berantai, mulai dari membuat/mendiskusikan perencanaan, melaksanakan program, mengevaluasi dan membimbing/melatih peserta didik. Belum banyak informasi aktual yang tersosialisasikan kepada berbagai pihak tentang program pendidikan gratris. Namun efek pendidikan gratis telah mengembangkan ragam persepsi dikalangan pengajar dan ini perlu segera dimediasi agar tidak berkembang ke arah yang salah. Pendidikan gratis banyak digemborkan oleh kalangan politisi sebagai topik program kerja selama menjabat sebagai penentu kebijakan. Seiring semakin terhimpitnya daya beli masyarakat untuk kebutuhan pokok, maka dirasa efektif program kerja ini dikampanyekan untuk direalisasikan segera.

  1. Dampak positif pendidikan gratis

Masyarakat dengan sendirinya terbentuk berlapis-lapis, dari kalangan ekonomi lemah hingga ekonomi kuat. Sudah suratan takdir demikian, program pemerintah sudah mengakomodir hal itu melalui subsidi BBM dalam bentuk program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dengan inti batasannya yaitu Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) berupa operasional akan dibiayai oleh pemerintah melalui dana ini, jika dana BOS > RAPBS = gratis tapi jika BOS<RAPBS maka sekolah dapat menarik bantuan dana dari komite sebesar kekurangannya dengan memperhatikan kemampuan orang tua siswa (anggota komite), dalam hal ini orang tua siswa yang tidak mampu gratis/disubsidi dan meringankan yang sudah mampu.

Sekolah gratis adalah program daerah, dengan sendirinya bantuan akan bertambah selain dana BOS, pemerintah daerah bertanggungjawab untuk mengeliminir segala bentuk pungutan-pungutan biaya yang harus ditanggung orang tua siswa untuk kepentingan persekolahan yang masih ditemukan pada tahun-tahun sebelumnya. Beberapa item masih sebagai gambaran dan merupakan bentuk realisasi program ini antara lain; pemberian tunjangan untuk kepala sekolah/wakil, urusan-urusan, wali kelas, kepala tata usaha, staf tata usaha sekolah, tunjangan mengajar/berdiri= Rp. 1.250,-/jam, kepala laboratorium dan perpustakaan (usulan) dan beberapa tenaga lainnya.

  1. Dampak negatif pendidikan gratis

Sekolah bukan hanya berupa "operasional", sekolah punya kurikulum sendiri sementara dana BOS mengharuskan digunakan untuk pos-pos yang sudah ditentukan dari pusat (ada 13 + 1 pos). Sekolah gratis lebih mengakomodir KTSP karena melalui sosialisasi dan rapat sampai tingkat daerah sehingga bentuk realisasinya lebih mendekati kepentingan sekolah. Bagaimana dengan kepentingan peserta didik, sampai dimana kita (pemerintah, guru, orang tua, stakeholder) meneropong kepentingan peserta didik yang seharusnya dikedepankan. Bagaimana bentuk ucapan terima kasih orang tua siswa kepada pemerintah, guru dan komponen sekolah?.

a. Siswa dan orang tua siswa

Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia, membentuk, melatih agar menjadi manusia yang berguna dan bermakna dalam kehidupan bermasyarakat. Refleksi sejenak kebutuhan siswa sebagai subyek pendidikan dan apa yang ada di dalam tas sekolah seorang anak manusia yang siap ke sekolah (itupun kalau anak sekolah tersebut pakai tas sekolah). Semakin sulit ditemukan buku teks pelajaran yang up to date, syukur-syukur kalau catatannya lengkap. Catatan! Ke sekolah untuk mencatat? Itu pembelajaran tahun 70-an?!. Berapa persen orang tua siswa yang berinisiatif mengadakan buku teks untuk anak-anaknya jika diketahui bahwa anaknya tidak mempunyai sesuatu yang dibaca/dipelajari di rumah. Program pengadaan buku teks ada dalam BOS, tapi sebatas untuk dikoleksi di perpustakaan (item 2 penggunaan dana BOS) kenyataannya sudah tahun keempat program ini berjalan SMP Negeri 1 Barru contohnya belum sanggup memberikan ratio 1:1 untuk siswanya pada setiap mata pelajaran, jika sudah demikian apa isi tas seorang siswa SMP jika pulang ke rumah?.

Kita (pemerintah, guru, orang tua) harus angkat fenomena ini secepatnya kepermukaan sebagai topik yang harus punya solusi sebelum generasi kita ini meradang. Beragam media, metode/model pembelajaran, manajemen setangguh apapun kalau subyek sorotan/bentukan kita tidak pernah siap maka semua tidak berjalan sesuai skenario...yah, skenario pembelajaran atau apapun namanya.

Bahan ajar yang disadur dari berbagai buku teks, media cetak, media AV, internet merupakan satu dari sekian banyak solusi yang perlu dikampanyekan seiring lantangnya genderang pendidikan gratis. Bahan ajar yang terbentuk dari lingkungan tempat diterapkannya penglaman belajar akan sangat mendukung pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Siswa akan merasa terlibat langsung sebagai pemeran (subyek pembelajaran) dalam proses pembentukan dirinya, menggali sendiri konsep-konsep ilmu pengetahuan dengan arahan guru sebagai fasilitatornya (kontruktivism).

b. Guru

Guru seyogyanya terus menggali dan berlatih menyusun bahan ajar guna peningkatan profesionalnya, walau di akui tidak ada pekerjaan yang baru langsung sempurna hasilnya. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sebagai wadah guru perlu dioptimalisasi kinerjanya dengan memberikan suatu program penyusunan bahan ajar. Kosekwensi dari guru profesional dengan penyegaran tunjangannya harus diterima, jika tidak siap profesional maka dengan sendirinya akan terpinggirkan, walau sekarang ini masih berasas "sipakatau".

c. Pemerintah

Pemerintah telah menyalurkan bantuan berupa buku Prediksi Ujian Akhir Nasional untuk kelas IX dengan harapan terjadi peningkatan persentase kelulusan siswa. Namun kenyataan masih berbicara lain. Satu indikasi masih perlunya evaluasi proses, bahan ajar yang direlevansikan dengan standar kelulusan yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Akan lebih bermakna jika penyusunan bahan ajar dan buku prediksi Ujian Akhir Nasional disusun oleh tim hasil bentukan MGMP daerah yang benar-benar berdasar pada Standar Komptensi Lulusan (SKL) dengan dana suntikan dari daerah. Kabupaten Barru sanggup untuk melahirkan mencetak dan mendisitribusi serta mengawasi penggunaan bahan ajar untuk generasi Barru. Kabupaten Barru sanggup menjamurkan taman-taman baca dan fasilitas pendukungnya guna membudayakan minat baca pada warganya.

BAB III

PENUTUP

  • KESIMPULAN

Beberapa aspek yang dibahas di atas yaitu bahan ajar untuk proses pembelajaran dan subsidi BBM bidang pendidikan berupa BOS serta fenomena pendidikan gratis, semua itu dapat simpulkan sebagai berikut:

  • Berbagai media, strategi/model dan intake siswa tidak akan banyak bermanfaat jika bahan ajar sebagai konsumsi utama peserta didik tidak memadai.
  • Sosialisasi program kompensasi subsidi BBM dalam bentuk dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) masih kaku dan keluar dari juknis yang sebenarnya
  • Pendidikan gratis memberi dampak negatif jika tidak ada control terhadap peserta didik, terutama dari segi sarana bahan ajar dan peran komite sekolah sebagai mitra, social control persekolahan.
  • SARAN

Mengusulkan solusi itu lebih baik daripada hanya dapat menggerutu dan mengkritik terhadap permasalahan, untuk itu penulis menawarkan solusi untuk berbagai pihak sebagai berikut:

  • Orang tua harus tetap memperhatikan kebutuhan anaknya akan sarana belajar misalnya kebutuhan akan bahan ajar, buku teks salah satunya. Jangan terlena akan genderang pendidikan gratis.
  • Peran Musyawarah Guru Mata Pelajaran sangat signifikan digalakkan untuk mengadakan pelatihan pembuatan bahan ajar dan soal-soal prediksi ujian akhir nasional. Langkah untuk menyalurkan bantuan buku seperti sebelumnya tanpa rekomendasi dari pengurus MGMP perlu ditinjau kembali.
  • Pengalokasian dana BOS berupa interval persentase nilai nominal dana "BOS buku" atau dana BOS bahan ajar.
  • Pemerintah mengembang amanah untuk memfasilitasi tumbuh-kembangnya budaya minat baca pada generasi pelanjutnya.

PUSTAKA

  1. Departemen Pendidikan Nasional.2003. Undang-undang RI No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.Jakarta. CV Eko Jaya.
  2. Departemen Pendidikan Nasional.2003. Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pendidikan Nasional.Jakarta.CV Eko Jaya.
  3. Departemen Pendidikan Nasional.2005.Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun tentang Standar Pendidikan Nasional.Jakarta. BP CIPTA JAYA.
  4. Departemen pendidikan nasional dan departemen agama.2006. program kompensasi pengurangan subsidi BBM bidang pendidikan 2006 dalam rangka wajar dikdas 9 tahun yang bermutu. Makalah sosialisasi dana BOS.
  5. Tim Pengembang Sekolah Efektif.2007.Kerangka penyusunan bahan ajar.makalah penyusunan bahan ajar tingkat SMP


Lampiran 1.

PENGGUNAAN DANA BOS

  1. Pembiayaan seluruh kegiatan dalam rangka Penerimaan Siswa Baru: biaya pendaftaran, penggandaan formulir, administrasi pendaftaran, dan pendaftaran ulang
  2. Pembelian buku teks pelajaran dan buku penunjang untuk dikoleksi di perpustakaan
  3. Pembelian bahan-bahan habis pakai, misalnya buku tulis, kapur tulis, pensil, bahan praktikum, buku induk siswa, buku inventaris, langganan koran, gula, kopi dan teh untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah
  4. Pembiayaan kegiatan kesiswaan program remedial, program pengayaan, olahraga, kesenian, karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah remaja dan sejenisnya
  5. Pembiayaan ulangan harian, ulangan umum, ujian sekolah dan laporan hasil belajar siswa
  6. Pengembangan profesi guru: pelatihan, KKG/MGMP dan KKKS/MKKS
  7. Pembiayaan perawatan sekolah: pengecatan, perbaikan atap bocor, perbaikan pintu dan jendela, perbaikan mebeler dan perawatan lainnya
  8. Pembiayaan langganan daya dan jasa: listrik, air, telepon, termasuk untuk pemasangan baru jika sudah ada jaringan disekitar sekolah
  9. Pembayaran honorarium guru dan tenaga kependidikan honorer sekolah yang tidak dibiayai Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. Tambahan insentif bagi kesejahteraan guru PNS ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah
  10. Pemberian bantuan biaya transportasi bagi siswa miskin
  11. Khusus untuk pesantren salafiyah dan sekolah keagamaan non Islam, dana BOS dapat digunakan untuk biaya asrama/pondokan dan membeli peralatan ibadah
  12. Pembiayaan pengelolaan BOS: ATK, penggandaan, surat menyurat dan penyusunan laporan
  13. Bila seluruh komponen diatas telah terpenuhi pendanaannya dari BOS dan masih terdapat sisa dana maka sisa dana BOS tersebut dapat digunakan untuk membeli alat peraga, media pembelajaran dan mebeleur sekolah

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar