Minggu, 30 Mei 2010

Planning pada Kegiatan Lesson Study

  1. Latar Belakang

Tulisan ini erat kaitannya dengan bahasan terdahulu yang bertema Lesson Study pada zakaria71@blogspot.com tentang Lesson Study dan team teaching akomodir dari lesson study pada pemenuhan beban kerja untuk pembelajaran berbasis makna, beban kerja 24 jam versus lesson study, dan lain sebagainya. Sebagai Fasilitator dari sekolah dan MGMP piloting Lesson Study dibawa bimbingan langsung oleh Japan International Cooperation Agency (JICA=moyangnya Lesson Study) merupakan suatu hal yang responsive jika penulis mengutarakan tema ini, agar khalayak yang berkempentingan dapat mempertimbangkan sebagai suatu sisi fenomena yang dapat memperkaya kompetensi untuk membuat suatu keputusan stratejik.

Sebagaimana dalam tulisan terdahulu bahwa penulis diundang untuk mengadakan simulasi dan sharing tentang Lesson Study mengenai pengalaman penulis di lapangan oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sulawesi Selatan pada bulan September 2009. Pada Sosialisasi dan pendalaman Lesson Study tersebut dihadiri 3 orang guru, Kepala Sekolah dan salah seorang Pengawas Pendidikan tiap kabupaten se Sulawesi Selatan-Barat. Artinya Lesson Study merupakan forum kolaborasi yang tidak asing lagi bagi guru-guru di Sulawesi Selatan & Barat, karena peserta yang hadir akan di SK-kan sebagai Fasilitator Lesson Study tingkat kabupaten masing-masing.

Focus dari simulasi penulis pada Sosialisasi dan Pendalaman Lesson Study di Hotel Transit II Maros September 2009 lalu adalah Open Class dan Refleksi. Ada hal yang sangat urgensial yang belum tersimulasi yaitu bagaimana mengadakan Planning. Planning hanya diperkenalkan sebatas teori bahwa Planning itu adalah perencanaan (yaaa..itu juga siswa kita taau…kalau planning adalah perencanaan). Tapi kalau Planning adalah kegiatan perencanaan open kelas yang berisi beberapa kegiatan seperti di bawah ini itu baru planning versi Lesson Study:

  1. menentukan kompetensi yang dilaksanakan pada pembelajaran (kalau LSBS perlu penentuan jenis mata pelajaran terlebih dahulu).
  2. menyepakati guru model (atau sudah ditentukan secara terjadwal)
  3. sebagai nara sumber tentang karakteristik siswa (sekolah), calon guru model memaparkan secara jujur pengalamannya membelajarkan siswanya termasuk kesulitan dan karakteristik lainnya.
  4. menyusun rencana Pembelajaran yang erat kaitannya dengan;
  5. menentukan model, metode dan media pembelajaran termasuk layout denah kelas.
  6. mempelajari dan atau merevisi lembar observasi.
  7. Walau sifatnya sepele karena sudah rutin dilampirkan, tetap diingatkan tentang tata tertib Lesson Study yang berisi tata tertib saat berperan sebagai: modertator, observer dan saat refleksi.

Ketujuh step di atas hanya draft pengembangan draft sangat mungkin terjadi, sesuai kondisi dan keakraban kolaborasi pada saat planning. Penting untuk diperhatikan bahwa forum ini berasas kolegalitas, siapapun dalam forum itu adalah kolega kita, terlepas dia adalah pengawas, kepala sekolah atau nara sumber lainnya.

Bagaimana bentuk planning pada forum Lesson Study berbasis MGMP (LSMGMP) di kecamatan Barru?...mari kita simak pengalaman penulis…

  1. Planning dalam Lesson Study

Seperti dari berbagai materi tentang Lesson Study tentang langkah-langkah mengimplementasi kan Lesson Study yaitu yang pertama dan utama adalah adanya komitmen dari berbagai pihak dan yang terutama adalah komitmen dari forum itu sendiri yang harus didukung oleh komitmen kepala sekolah, pengawas, dan kepala dinas pendidikan tentunya.

Fenomena planning dalam Lesson Study sebagai berikut:

  1. menentukan kompetensi yang dilaksanakan pada pembelajaran (kalau LSBS perlu penentuan jenis mata pelajaran terlebih dahulu).
  2. menyepakati guru model (atau sudah ditentukan secara terjadwal)

Step penentuan guru model dan mata pelajaran biasanya adalah satu kesatuan untuk Lesson Study yang terimplementasi pada jenjang SMP/MTs dan SMA/SMK/MA karena bukan pembelajaran tematik. Untuk forum Lesson Study berbasis sekolah (LSBS) jadwal, dan nama guru model disusun oleh panitia Lesson Study pada awal semester diketahui oleh kepala sekolah dan ditempel secara permanen untuk diketahui oleh semua guru. Untuk SMP Negeri 1 Barru yang mempunyai personil guru lebih dari 50 orang, dibagi menjadi dua kelompok planning yaitu kelompok Bahasa dan kelompok Sains (walaupun ini mungkin memunculkan perdebatan istilah "sains") tapi pada kenyataannya kelompok bahasa tergabung di dalamnya Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Daerah, IPS, Seni Budaya/Tari, PKn, dan PAI serta kelompok Sains terdiri dari Matematika, IPA, TIK, dan Penjaskerek.

Untuk forum Lesson Study berbasis Musyawarah Guru Mata Pelajaran (LSMGMP) jadwal, dan nama guru model disusun oleh panitia Lesson Study pada awal semester diketahui oleh fasilitator (untuk saat tulisan ini disusun masih dibawah naungan Tim Pengembangan Kecamatan=TPK).

  1. sebagai nara sumber tentang karakteristik siswa (sekolah), calon guru model memaparkan secara jujur pengalamannya membelajarkan siswa untuk materi yang akan dimodelkan, termasuk kesulitan dan karakteristik lainnya.

    Kompetensi yang akan diimplementasikan pada lesson study dianjurkan materi yang sedang berjalan sesuai dengan alokasi waktu pada sekolah tersebut sehingga tidak mengganggu KTSPnya. Namun mengangkat materi khusus yang dianggap guru model punya masalah adalah anjuran lain. Misalnya LSMGMP (lesson study berbasis MGMP) di SMP Negeri 2 Barru tentang Konsep Bunyi dalam Kehidupan Sehari-hari. Pembelajaran ini membahas konsep resonansi dengan memperagakan gerakan bandul. Di SMP Negeri 1 Barru tentang konsep asam dan basa pada produk makanan serta banyak lagi yang lainnya.

    Kompetensi yang dibelajarkan semua sesuai dengan program yang berjalan mata pelajaran tersebut di sekolah yang bersangkutan. Kecuali open Lesson kedua (pertengahan April) di SMP negeri 1 Barru diangkat kompetensi yang dianggap oleh guru model membutuhkan bantuan dalam pembelajarannya, hal ini terjadi berhubung guru model adalah guru yang mengajar di kelas IX yang sudah selesai Ujian Nasional pada akhir Maret.

  2. Menyusun rencana Pembelajaran yang erat kaitannya dengan; menentukan model, metode dan media pembelajaran termasuk layout denah kelas.

    Menyusun rencana pembelajaran dengan berkolaborasi dari berbagai sekolah sangat mengasyikkan. Tentunya dapat dipahami demikian banyak fenomena-fenomena pembelajaran yang sudah dikecap oleh masing-masing rekan guru tertuang semua dalam forum ini. Pengalaman-pengamalan itu sangat bermanfaat untuk diangkat plus pengalaman-pengalaman dari hasil refleksi lesson study terdahulu. Baiklah penulis angkat pengalaman bagaimana planning dilaksanakan dan yang seharusnya diputuskan.

    Pertama-tama tuliskan standar kompetensi pada white board untuk dibahas bersama "apa yang harus dicapai siswa dalam kompetensi tersebut". Misalnya Standar Kompetensi : 6. Memahami konsep dan penerapan getaran, gelombang, dan optika dalam produk teknologi sehari-hari.

    Kedua, di bawah standar kompetensi tersebut tuliskan semua Kompetensi Dasar sebagai patokan untuk mencapai Standar Kompetensi dan dasar kita untuk membuat indicator. Hal ini sangat penting karena dari sekian Kompetensi Dasar siswa harus memahami konsep dan memahami penerapan getaran, gelombang, dan optika dalam produk teknologi sehari-hari. Kompetensi Dasar yang ditulis adalah:

    Memperhatikan KD 6.1 dan KD 6.2 membicarakan getaran dan gelombang dengan jumlah pertemuan masing-masing 8 X 40' dilain pihak KD 6.3 dan 6.4 membicarakan tentang konsep cahaya dan optic. Dengan mempertimbangkan konsep maka seakan-akan KD 6.1 dan 6.2 dibicarakan pada suatu waktu dan KD 6.3 dan 6.4 dibicarakan pada waktu lain.

    Sekarang apa yang yang ingin dicapai siswa pada KD 6.1?...jawabannya adalah memahami konsep tentang getaran dan gelombang serta paramaeter-parameternya berupa Amplitudo, Frekuensi, dan priode.

    Berhubung siswa sudah dianggap sudah mengetahui getaran dan gelombang dengan parameter-parameternya dan sekarang guru model akan membelajarakan siswa pada KD 6.2 yaitu Mendeskripsikan konsep bunyi dalam kehidupan sehari-hari,
    pertemuan ke-2 (materi gelombang sudah memasuki pertemuan ke-6). Pada KD ini pertanyaan sama muncul "Apa yang harus dicapai siswa??..dan apa serta bagaimana guru memfasilitasinya??...

    Pada pertemuan ke-2 KD 6.2 ini, indicator yang menunjukkan bahwa siswa dapat membangun konsep kompetensi 6.2. adalah:

  • Menunjukkan gejala resonansi dalam kehidupan sehari-hari.
  • Memberikan contoh pemanfaatan dan dampak pemantulan bunyi dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi.

Beberapa tujuan pembelajaran yang diharapkan tercapai pada pertemuan ini akan mengarahkan siswa nantinya ke arah penguasaan indicator, yaitu:

  • Menjelaskan pengertian resonansi
  • Mengamati terjadinya resonansi pada bandul sederhana
  • Menjelaskan aplikasi konsep resonansi pada alat music
  • Menjelaskan masalah yang ditimbulkan resonansi.



Petanyaan ini penting karena KD-kita adalah membahas tentang bunyi, apa hubungan antara resonansi dengan bunyi?...apa tujuannya siswa mengetahui resonansi?...dan jika siswa menguasai resonansi apakah sudah terbangun konsep tentang bunyi pada siswa?

Untuk itu forum guru dalam planning harus 'mundur' dulu untuk mendetailkan tentang bunyi dan komplemen yang terkait dengan konsep bunyi.

Bunyi sebagaimana ditulis oleh Saiful Karim dalam buku BSE adalah bentuk energi yang merambat dalam bentuk gelombang longitudinal.

(Sound is a form of energy that comes in the form of longitudinal waves). Pada sumber yang sama ditambahkan; Bunyi dihasilkan dari sumber getaran dalam suatu medium (Sound is roduced by any vibrating source placed in a medium).


Mari kita bahas tentang bunyi (artinya=gurunya dulu yang harus mengerti konsep ini secara jelas agar dapat memfasilitasi dan membuat suatu strategi bagi siswanya).

1) Bunyi merupakan bentuk gelombang longitudinal, 2) gelombang adalah getaran yang merambat, 3) bunyi diakibatkan oleh energy, 4) bunyi dihasilkan oleh getaran, 5) getara adalah gerakan bolak-balik melalui titik setimbang, 6) simpangan maksimum dari titik setimbang disebut amplitude, 7) kuat lemahnya bunyi dipengaruhi amplitude, dan 8) banyaknya getaran/second disebut frekuensi.

Selanjutnya diidentifikasi bahwa siswa sudah tuntas mempelajari poin 3, 4,5, 6 dan 8….*), sehingga tinggal dihubungkan bahwa getaran menimbulkan bunyi dan bunyi didengar karena karena gendang telinga kita bergetar. Getaran gendang telinga diakibatkan getaran sumber bunyi…..**), bunyi merambat melalui suatu medium….***), amplitude mempengaruhi kuat-lemahnya bunyi..****).

Jika konsep sudah diketahui siswa, sebagai pembelajaran bermakna informasi awal apa yang dapat digali dari siswa (biasanya berdasarkan pengalamannya atau materi yang sudah didapatkan sebelumnya yang sudah 'dibermaknakan'). Perhatian kita mungkin tertuju pada…*) ditambahkan bergetanya rumah-rumah siswadi pinggir jalan jika ada truk lewat di jalan atau mungkin pot bunga yang diletakkan di atas loudspeaker/TV.


Bersanbung………….

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar