Sabtu, 29 Agustus 2009

LESSON STUDY THE REEL TEACHER PROFESSIONAL FORUM

Oleh: Abdul Zakaria, S.Pd *)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kualifikasi akademik dan sertifikasi profesi guru yang harus menjadi perhatian serius dari pemerintah maupun pemerintah daerah, perlu dipikirkan pembinaan dan pengembangan profesi dan karier guru yang meliputi pembinaan dan pengembangan kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Hal ini diamanatkan dalam pasal 32 Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, sedangkan pasal 34 Undang-undang tersebut mengamanatkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat. Pembinaan dan pengembangan profesi dan karier guru ini perlu dilakukan secara kontinu, sehingga terdapat keberlanjutan para guru dalam mengembangkan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas dan dalam masyarakat. Sehingga guru terpacu dan termotivasi untuk senantiasa melaksanakan
profesinya secara maksimal. Untuk ini, mengingat kuantitas guru di Indonesia yang cukup besar, perlu dipilih suatu model pembinaan dan pengembangan profesi dan karier guru yangdapat dilakukan oleh para guru sendiri dengan tidak meninggalkan
tugasnya.
Salah satu model pembinaan seperti ini adalah pelaksanaan lesson study dengan menerapkan pendekatan pembelajaran inovatif yang dapat dilakukan oleh kelompok/organisasi profesi guru seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dengan bantuan pakar pendidikan yang relevan. Kegiatan ini biasa disebut pelaksanaan lesson study dengan pendekatan pembelajaran inovatif berbasis MGMP. Selain itu, lesson study dapat dilaksanakan berbasis sekolah. Lesson study ini dapat dilakukan dalam kelompok guru di tiap daerah dengan tidak perlu meninggalkan tugas mengajar.
Pelaksanaan lesson study ini merupakan salah satu strategi yang mendorong adanya kontak akademik atau kolaborasi akademik antar guru dengan adanya balikan dari siswa atau guru lain tentang cara pembelajaran yang dilakukan guru. Sehingga diharapkan dengan pelaksanaan lesson study, akan terjadi interaksi akademik di antara para guru dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di kelas secara berkelanjutan, yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu proses pembelajaran yang dilakukan guru.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diangkat suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1) Bagaimana pelaksanaan lesson study di kabupaten Barru
2) Apa manfaat bagi guru setelah mengimplementasikan lesson study di kabupaten Barru.

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan penulisan makalah ini adalah:
1) Mendeskripsikan tentang pelaksanaan lesson study di kabupaten Barru
2) Mengetahui manfaat setelah terlibat dalam forum lesson study


LESSON STUDY
THE REEL TEACHER PROFESSIONAL FORUM

Inservice teacher training pada guru berupa pelatihan, penataran, seminar dan sejenisnya sudah sedemikian akrab dengan para pembelajar. Harapan dari bentukan atau mungkin ‘polesan’ dari kegiatan yang menelan biaya besar tersebut selain untuk meningkatkan kualitas guru yang lebih penting lagi adalah guru yang peserta inservice teacher training mampu menerapkan hasil training dalam proses pembelajaran di kelasnya dan dibiaskan/ditularkan pada anggota seprofesi minimal pada intansi yang mengutusnya. Sukirman (2006) menuliskan bahwa kenyataan di lapangan berbicara lain, kebanyakan jebolan inservice teacher training menjebol harapan pengambil kebijakan, monitoring yang mempersoalkan apakah ada peningkatan mutu pembelajaran yang dilakukan oleh peserta tidak nampak nyata. Dibutuhkan suatu f√≥rum yang lebih tajam mengarahkan pada indikator kinerja yang diharapkan yaitu Lesson study.
Lesson Study (or kenkyu jugyo) is a teaching improvement process that has origins in Japanese elementary education, where it is a widespread professional development practice. Working in a small group, teachers collaborate with one another, meeting to discuss learning goals, to plan an actual classroom lesson (called a "research lesson"), to observe how it works in practice, and then to revise and report on the results so that other teachers can benefit from it. Lesson study telah dikenal sebagai suatu proses pembelajaran yang bahan ajarnya adalah pembelajaran itu sendiri. Singkatnya lesson study adalah belajar dari pembelajaran. Kegiatan ini berpola dari apa yang kita rencanakan bersama, akan kita lakukan (DO) dan apa yang kita lihat/observasi bersama untuk direfleksi (See).
Lesson study the Reel teacher professional forum, hal ini berdasar dari kolaborasi dari berbagai kelompok guru baik kelompok mata pelajaran yang sama maupun lintas kelompok mata pelajaran. Lesson study diimplementasikan dapat berbasis sekolah yaitu guru-guru yang ada di suatu sekolah, basis ini merupakan basis tersempit kolaborasinya tetapi bisa saja yang terbanyak pesertanya karena semua guru pada sekolah tersebut dapat terlibat atau berhak terlibat. Kelompok dari beberapa sekolah merupakan basis dengan jangkauan kolaboratif yang lebih luas, dan basis berikut adalah MGMP artinya mata pelajaran tertentu sepakat berkolaborasi mengadakan lesson study yang diikuti oleh semua guru/sebagian guru anggota MGMP tersebut.
A. IMPLEMENTASI LESSON STUDY DI KABUPATEN BARRU

a. Prima Pendidikan dan Lesson Study
Lesson study di kabupaten Barru terlaksana berkat kerjasama antara pihak pemerintah daerah bekerjasama dengan pihak Japan International Cooperation Agency (JICA) suatu bentuk kerjasama pemerintah Indonesia-Jepang dalam bentuk kegiatan Prima Pendidikan yang mengcover tiga kabupaten dan 50% dari kecamatan pada kabupaten tersebut akan dibina. Pada siklus kedua (tahun kedua) prima pendidikan hanya membutuhkan satu dari empat kecamatan binaan yang mendapatkan kesempatan mengimplementasikan lesson study, sehingga seleksi ketat proposal tidak terhindarkan.kecamatan Barru dan SMP Negeri 1 Barru yang terpilih sebagai kontestan yang berhak mengimplementasikan lesson study. Calon fasilitator kecamatan mengadakan study banding di kabupaten Pasuruan pada bulan Desember 2008 untuk menyaksiskan langsung implementasi lesson study karena kabupaten Pasuruan dan kota Malang merupakan piloting lesson study di Indonesia yaitu sudah berjalan selama empat tahun.
b. Implementasi Lesson Study di Kecamatan Barru
Lesson study berbasis MGMP dan Lesson Study berbasis Sekolah mulai berjalan efektif pada bulan Januari 2009. MGMP IPA yang merangkul 15 orang anggota MGMP dan dua orang fasilitator, MGMP IPS merangkul 19 orang anggota dan dua orang fasilitator. Lesson study berbasis sekolah merangkul semua guru di SMP Negeri 1 Barru tanpa memperhatikan background guru tersebut dengan dua orang fasilitator. MGMP IPA dan IPS mengajak sekolah yang sama yaitu SMP Negeri 1 Barru, SMP Negeri 2 Barru, SMP Negeri 3 Barru, SMP Negeri 4 SATAP, dan MTs Mangempang Barru. Semua sekolah mendapat kunjungan tahapan lesson study. Forum pengembangan professional guru ini diadakan selama 4 bulan dengan tahapan 4 kali planning, 4 open kelas/DO, dan 4 kali refleksi/see pada sekolah yang berbeda.
c. Lesson Study Berbasis MGMP IPA
Nama kegiatan/forum lesson study berbasis MGMP IPA; fasilitator :
(1) Abdul Zakaria, S.Pd., (2) Hj. Junaiah, S.Pd. Tim ahli JICA
Norimichi Toyomane, Yoshita Takasawa, Nitasari dan kawan-kawan (alih bahasa).
a) Planning (Perencanaan)
Planning pertama diadakan di SMP Negeri 1 Barru, 15 orang guru duduk bersama untuk mendiskusikan tentang perencanaan pembelajaran tentang magnet elementer yang akan diimplementasikan di SMP Negeri 2 Barru. Guru dari sekolah tersebut menguraikan karakteristik intak siswa, dan daya dukung sekolahnya. Segala solusi dipaparkan dan dipilih solusi yang tebaik. Planning kedua diadakan di MTs Mangempang dan open kela di SMP Negeri 3 Barru, planning ketiga di SMP Negeri 4 SATAP dan open kelas di MTs Mangempang kemudian Planning terakhir untuk siklus ini di SMP Negeri 1 Barru dan open kelas di sekolah yang sama sekaligus penutupan secara resmi.
b) Open kelas/Do/pelaksanaan pembelajaran
Open kelas yang dikenal dengan nama do dalam lesson study merupakn imlementasi di depan siswa apa yang direncanakan bersama pada kegiatan terdahulu (planning), pada saat bersamaan kolabor mengobservasi segala aktivitas yang terjadi dengan focus aktivitas siswa. Beberapa hal yang patut untuk di kedepankan:
1) Sebagian siswa adalah file kosong (blank) yang siap diisi, dan usahakan diisi jika filenya sudah siap.
2) Fokuskan perhatian pada siswa yang berbody linguae tidak mengikuti pembelajaran, segera catat siapa, menit keberapa, apa yang dilakukan, cari kira-kira alasan penyebabnya, dan lebih bagus observasinya jika ada solusi dari masalah tersebut.
3) Prinsip observasi “apakah siswa belajar”, apakah siswa mengerti terhadap apa yang dipelajari?”

c) Refleksi/see
Untuk membuat ringkasan (summary) tentang kegiatan dan pencapaian kelompok lesson study serta membuat rekaman/laporan agar dapat dimanfaatkan di kemudian hari, sekolah mengumpulkan RPP research lesson yang telah dibuat sepanjang tahun, data serta catatan hasil observasi, sampel-sampel pekerjaan siswa, catatan hasil diskusi, dan refleksi mengenai kegiatan lesson study untuk dijadikan sebagai laporan akhir. Rekaman ini menjadi resources yang penting bagi para guru untuk memperbaiki praktik pembelajaran mereka di kemudian hari. Di Jepang sekolah-sekolah membuat laporan lesson study semacam ini yang kemudian disimpan di sekolah, di dewan pendidikan dan pusat-pusat pendidikan. Laporan-laporan ini seringkali dibagi-bagikan ketika ada penyelenggaraan lesson study open house dan dihadiahkan kepada tamu-tamu penting yang berkunjung ke sekolah. Di Jepang, guru-guru menerbitkan banyak buku studi kasus tentang lesson study, yang juga tersedia di toko-toko buku besar (Mikoto Yoshita dalam Muklas).
Refleksi segera dilaksanakan setelah open kelas, artinya jangan ditunda, catatan lembar observasi atau rekaman dipersiapkan untuk mendukung fakta yang akan direfleksi. Ada tiga komponen yang berperan penting dalam refleksi; (1) observer, (2) moderator, dan (3) tim pendamping (fasilitator, tim ahli, dan nara sumber).


Dewan pendidikan (kopiah) berturut-turut Kadiscam dan undangan (UNM) dan Tim Pendamping (JICA) serta para observer.
Langkah-langkah refleksi sebagai berikut yang dianut lesson study MGMP IPA kab. Barru:
1) Moderator membuka refleksi dan memperkenalkan hadirin
2) Kesan guru model mengenai pelaksanaan pembelajarannya mengenai:
- Tujuan pembelajaran hari ini
- Tujuan pembelajaran yang dianggap berhasil dicapai
- Tujuan pembelajaran yang dianggap belum berhasil dicapai
3) Dengan panduan moderator semua observer menguatarakan hasil observasinya, pastikan tidak ada observer yang tidak mengutarakan hasil observasinya dengan memperhatikan kondisi nyata pembelajaran, alasan kenyataan itu terjadi, dan solusi mengatasinya.
4) Moderator memandu untuk memberi kesempatan pada guru model untuk utarakan kesannya terhadap hasil observasi kolabornya.
5) Komentar dari tim ahli akan mengomentari semua, mulai dari pembelajaran maupun komentar dari observer.
B. MANFAAT LESSON STUDY
1) Manfaat Lesson Study bagi Guru
Manfaat Lesson Study bagi guru dari hasil pengalaman guru di SMP/MTs di kecamatan Barru;
 Keberanian guru membuka kelas
 perbaikan pada praktek pembelajaran oleh guru, dan meningkatkan kolaborasi antar guru.
 Pengendalian dalam menerima segala perbaikan pembelajaran
 Kelihaian membuat/revisi perangkat
2) Manfaat Lesson Study bagi Siswa
 Pembiasaan bagi siswa dalam pembelajaran yang teramati oleh tim.
 Mengeliminir kecanggungan siswa dengan jumlah guru yang lebih dari satu di kelasnya.

PENUTUP

1. Kesimpulan
o In service teacher training belum berdampak signifikan untuk mengangkat prestasi akademik siswa di Sulawesi Selatan, sehingga reel training berupa lesson study perlu diterapkan sedini mungkin.
o Implementasi lesson study telah membangun kepekaan terhadap proses pembelajaran di kabupaten Barru.
o Lesson study dapat berbasis sekolah dengan lintas mata pelajaran, berbasis sekolah lintas sekolah, berbasis MGMP.
o Prinsip “apakah siswa belajar”, apakah siswa mengerti pembelajaran hari ini?” patut diterapkan dalam observasi, posisikan diri kita sebagai siswa baru kemudian memposisikan diri sebagai guru yang mengajar.
o Dalam observasi, urutkan komentar; 1) kondisi nyata yang dikomentari (apa yang terjadi, waktu kejadian), 2) alasan mengapa hal itu terjadi dan 3) usahakan ada solusi mengenai kejadian tersebut.
2. Saran
o Lesson study patut sebagai solusi observasi profesionalisme guru dan calon guru.
o Implementasi lesson study akan membangun kepekaan mengenai unjuk kerja siswa yang pada ujungnya akan meningkatkan keprofesionalan guru.
o Tim Lesson study perlu mendapatkan perhatian dalam penyusunan beban kerja 24 jam.
o Tim Lesson study perlu mendapatkan perhatian dan mendapatkan alokasi dana operasional pendamping dari APBN/BOS & APBD.

*) Penulis adalah Fasilitator Lesson Study berbasis MGMP Kab. Barru dan Mahasiswa Program Magister Manajemen 2009 PPs UNM

1 komentar :

  1. informasi sangat membantu sekali,mudah - mudahan artikel ini bermanfaat untuk semuanya.
    trimakasih atas kunjungannya .

    BalasHapus