Sunday, June 6, 2010

Laporan Hasil Penelitian



KARYA TULIS

1. ABSTRAK

Abstrak merupakan iktisar penelitian yang secara jelas dan lengkap menguraikan keseluruhan tulisan. Nama penulis tanpa gelar dan tahun dilanjutkan dengan judul tulisan. Misalnya;

Abdul Zakaria.2008. Model Pembelajaran Team Assisted Individualy (TAI) Meningkatkan Motivasi Belajar IPA Biologi Pada Kelas VIII.4 di SMP Negeri 1 Barru Kabupaten Barru.

Abstrak biasanya terdiri dari bebrapa alinea; alinea pertama berisi latar belakang permasalahan dan tujuan. Alinea kedua berisi metode penelitian yang membahas tentang prosedur dan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dan atau informasi yang didapatkan dari tempat penelitian. Alinea ketiga adalah hasil penelitian termasuk pembahasannya. Penulisan abstrak menggunakan spasi tunggal dan halaman abstrak di letakkan sebelum daftar isi pada laporan hasil penelitian.

2. BAGIAN UTAMA/INTI

a. Pendahuluan

1. Latar belakang masalah, pada latar belakang ini digambarkan mengenai:

a) Pentingnya penelitian itu dilakukan,

b) Kekuatan hukum (peraturan),

c) Kekuatan ilmiah (teori, hasil penelitian sbeblumnya, jurnal/makalah), data (depdiknas, BPS, Deptan, dan lain-lain)

d) Hindari penulisan definisi di ruang ini (ditahan dulu untuk ruang kajian teori)

e) Fenomena lapangan (gejala); kondisi fisik lingkungan, kondisi social ekonomi

Pada aspek a), b), c), d), e) selalu dimunculkan variable/focus penelitian agar pada perumusan masalah muncul variable/focus tidak terasa jump.

Gaya berpikir dalam menguraikan latar belakang masalah secara divergen dari hal-hal umum ke khusus secara piramida terbalik sebagai berikut;

2. Rumusan masalah yang menguraikan secara jelas, lugas, dan terpokus mengenai masalah yang diteliti/ditulis. Masalah penelitian dapat diperoleh:

a) Memperhatikan kesenjangan antara ‘harapan’ dengan ‘kenyataan’ yang terjadi,

b) Peneliti ingin menemukan sesuatu dengan 1) uji coba laboratorium, 2) uji coba lapangan,

c) Peneliti ingin memperoleh informasi.

Sumber-sumber inspirasi untuk meramu rumusan masalah;

a) Membaca buku teks, laporan penelitian, makalah ilmiah, jurnal ilmiah, dan lain-lain,

b) Forum ilmiah; symposium, seminar, pelatihan, diskusi ilmiah,

c) Pengamatan langsung; di laboratorium, di lapangan.

d) Dan lainnya; menyimak tayangan TV, siaran radio, diskusi informal.

3. Tujuan penelitian, tujuan penelitian harus relevan dengan masalah yang ditulis/diteliti.

4. Kegunaan penelitian, kegunaan penelitian ini sering mengecoh para penulis/peneliti pemula karena beberapa strukutur penulisan karya tulis menampilkannya sebagai manfaat penelitian sehingga susah membedakan ruangan ‘tujuan penelitian’ dengan ruangan manfaat penelitian’. Kegunaan penelitian yang biasa dikenal dengan manfaat penelitian menjelaskan manfaat temuan secara teoritis/praktis untuk siapa…yaa sesuai ruang lingkup dan kepentingan penelitian. Misalnya, seorang guru meneliti tentunya ruang lingkupnya adalah materi, siswa, rekan-rekannya, kepala sekolah, kepala dinas setempat. Manfaat penelitian diuraikan manfaat untuk masing-masing ruang lingkup tersebut.

5. Keterbatasan penelitian, ruangan ini memerlukan keterbukaan dari peneliti/ penulis mengungkap aspek-aspek keterbatasannya misalnya keterbatasan cakupan yang diteliti, keterbatasan waktu, metode yang dipilih dan lain-lain.

b. Kajian teori/Kajian pustaka/tinjauan pustaka

Peneliti/penulis membuat sintesis-sintesis sendiri dari teori-teori yang erat kaitannya dengan kata-kata kunci masalah penelitian atau kata-kata kunci pertanyaan penelitian (beberapa penulia member batasan yang berbeda antara masalah penelitian dengan pertanyaan penelitian). Kutipan-kutipan ini penting agar konsep penulis mendapatkan legitimasi antar kata kunci, terutama variable atau focus penelitian.

Pada latar belakang erat kaitannya dengan kutipan-kutipan sebagai dasar legalitas untuk itu perlu diperhatikan bagaimana hubungan antara fenomena yang akan ditulis, kutipan tulisan para penulis lain terdahulu dengan tulisan yang akan dibuat oleh peneliti dapat dipertimbangkan dasar berikut;

Latar belakang………………*)

……………………………………………………. Pengertian

……………………………………………………. Kutipan

……………………………………………………. Kutipan

Olah piker peneliti/penulis untuk mengiring ke variable/focus penelitian

……………………………………………………. Pengertian

……………………………………………………. Kutipan

……………………………………………………. Kutipan

Olah pikir peneliti/penulis untuk mengiring ke variable/focus penelitian

Secara garis besar, ada dua jenis kutipan, yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Berikut dikemukakan secara ringkas cara menuliskan kedua jenis kutipan tersebut.

1. Penulisan kutipan langsung.

Kutipan langsung kurang dari 40 kata atau tidak lebih dari tiga baris, ditulis sebagai bagian terpadu dalam teks dengan diberi tanda kutip (“....”) dan nomor halaman dari sumber kutipan harus disebutkan. Nama pengarang dapat ditulis secara terpadu dalam teks (lihat contoh pertama di bawah), atau ditulis menjadi satu dengan tahun publikasi dan nomor halaman yang ditulis dalam kurung (seperti contoh kedua). Perhatikan contoh berikut:

a. Soebronto (l990) menyimpulkan ”ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar” (h. 123).

b. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar” (Soebronto, 1990, h. 123).

Kutipan yang berisi lebih dari 40 kata atau lebih tiga baris ditulis secara terpisah dari teks, tanpa tanda kutip, dan diketik lima ketukan dari garis tepi kiri dengan spasi tunggal. Nomor halaman juga harus ditulis dan diketik di bagian akhir kutipan dengan diapit tanda kurung.

2. Penulisan kutipan tidak langsung

Kutipan tidak langsung adalah kutipan yang ditulis dalam bahasa penulis sendiri, tanpa mengubah makna sumber acuan. Kutipan seperti ini ditulis terpadu dengan teks dan tidak perlu diberi tanda kutip. Nama pengarang dapat disebut terpadu dalam teks, atau disebut dalam kurung bersama tahun penerbitnya. Nomor halaman tidak perlu disebutkan. Contoh:

a. Hasil penelitian Soebronto (1990) menunjukkan bahwa kemajuan belajar siswa di sekolah turut dipengauhi oleh faktor sosial ekonomi keluarganya.

b. Hasil penelitian menunjukkan, faktor sosial ekonomi memiliki hubungan yang erat dengan kemajuan belajar yang dicapai siswa (Soebronto, 1990).

Disimpulkan bahwa kutipan langsung, segalanya dipindahkan, sedikit rapat, berhalaman, bahasa asli dari penulis yang dikutip. Kuitipan tidak langsung, intisarinya saja yang ditulis artinya ada perpaduan dengan olah konsep dengan penulis.

Berasal dari kejian-kajian ini penulis/peneliti akan menyusun kerangka pikir sebagai alur pikirannya, apa, siapa mengapa, di mana, dan seterusnya antar variable/focus dianggap sebagai suatu masalah/pertanyaan masalah. Tulisan di atas (…..*)) dapat menjadi patokan hubungan antara berbagai teori/defenisi, kutipan-kutipan, dan olah pikir penulis/peneliti. Untuk itu, produk akhir tiap alinea selalu muncul konsep penulis/peneliti sebagai produk yang terlegitimasi dari kutipan-kutipan dari penulis/penenliti terdahulu yang dirujuk.

c. Hipotesis penelitian (jika diperlukan); hipo= bawah, tesatesis pernyataan sehingga hipotesa adalah pernyataan yang lemah (belum terbukti, sehingga mau dibuktikan supaya pernyataan ini menjadi kuat). Hipotesa sebagai pernyataan berdasar dari berbagai pernyataan yang dikutip pada kajian pustaka dan dihubungkan dengan fenomena yang ada di lapangan (yang melatar belakangi penelitian) sehingga je;as tergambar adanya gap antara “harapan” teori secara dengan “kenyataan” yang terjadi (dassein dengan dassolen). Atau hipotesa juga dapat berupa pernyataan yang dapat terjadi dengan adanya suatu perlakuan (belum terjadi) dan pernyataan ini didukung secara teori.

Tidak semua penelitian mempunyai hipotesis sehingga penelitian ini memerlukan pertanyaan penelitian yang jelas dan lugas berdasarkan kajian teori sebagai pengarah penelitian. Bagi peneliti eksploratif yang tidak ada rumusan hipotesis, dikemukakan “daftar Belanja” yakni daftar jenis data yang dikumpulkan.

d. Metode penelitian; pada bab ini peneliti menggambarkan proses yang dikerjakan sehingga data temuan terkumpul demikian pula cara menganalisis dan menafsirkannya. Tiap disiplin ilmu memiliki cara tetapi secara umum garis besarnya sebagai berikut:

Jenis desain penelitian,

Definisi operasional, artinya setiap variableyang akan diukur/diamati atau kata kunci didefinisikan secara jelas.

Sampel harus dijelaskan mulai dari cara menarikan, batasan generalisasinya. Pada penelitian tertentu digunakan istilah sasaran dan responden untuk menggambarkan data yang akan ditelusuri dan dari mana data tersebut diperoleh.

Instrument dan teknik pengumpulan data, semua alat ukur yang digunakan dan cara pengumpulan data, validasi dan reabilitasinya. Alat yang digunakan dapat berupa dokumentasi dan alat-alat pengumpul data disertakan pada laporan penelitian walaupun diletakkan sebagai halaman lampiran.

e. Hasil penelitian dan pembahasan

1) Penulisan hasil penelitian

Sebelum menulis hasil penelitian dipaparkan hendaknya ditampilkan dulu profil lembaga, wilayah tempat pengambilan data. Hal ini dapat dimengerti berhubung karena data diperoleh mempunyai karakteristik tersendiri. Misalnya meneliti tentang kinerja guru di suatu sekolah, maka profil sekolah itu yang dipaparkan pertama pada hasil penelitian. Selanjutnya penulis/peneliti memaparkan tentang focus masalah yang diteliti dan indicator-indikatornya. Data dari indicator-indikator inilah yang selanjutnya merupakan “nadi” penelitian sebab setelah diungkap datanya akan dilanjutkan dengan pembahasan yang merupakan trade mark penelitian tersebut.

Penulisan hasil penelitian pada dasarnya menggambarkan hasil penelitian berupa data “secara apa adanya”. Hasil penelitian dapat disertai table, grafik, foto, atau bentuk lain digunakan untuk menyajikan data lebih jelas dan lebih ringkas daripada kata-kata. Table, grafik, foto, atau bentuk lain yang disusun dengan baik ini dapat memberikan gambaran data secara jelas, lugas dan lebih dimengerti tetapi ringkas mengenai data.

Data mentah yang membangun grafik, table dapat dilampirkan karena data itu hanya sebagai penguat yang melegalisir hasil penelitian di lain sisi yang akan dibahas adalah grafik, atau table tersebut dan bukan data-data mentah yang membangun grafik, table tersebut.

Hal berbeda pada data yang diperoleh dengan teknik wawancara, data berupa hasil wawancara ditulis pada tubuh tulisan. Isi wawancara berupa data pernyataan dari responden merupakan inti pembicaraan yang akan dibahas merupakan alasan utama pentingnya isi wawancara ditampilkan pada tubuh tulisan.

2) Pembahasan hasil penelitian

Pembahasan merupakan analisis dan penafsiran peneliti terhadap ‘temuan’ dengan mengacu pada teori yang relevan yang disajikan pada kajian pustaka. Setelah memaparkan data temuan pada hasil penelitian, peneliti harus melakukan penafsiran dan pemaknaan terhadap semua data hasil penelitian yang diperoleh tersebut. Pada bagian ini, hipotesis penelitian (jika ada) diuji dan ditafsirkan maknanya secara konseptual. Dalam membahas hasil penelitian, peneliti tidak hanya menjawab permasalahan yang diajukan tetapi juga harus memberikan penafsiran yang menjelaskan “apa dan bagaimana” hasil-hasil penelitian itu terjadi. Pembahasan berupa penjelasan teoritik, baik secara kualitatif, kuantitatif atau secara statistic. Dengan demikian ada benarnya jika diklaim bahwa pembahasan hasil penelitian merupakan “nadinya” dari sebuah penelitian.

Setelah hasil penelitian itu ditafsirkan dalam hubungannya dengan hipotesis (atau pertanyaan) penelitian. Selanjutnya dibicarakan pula implikasi dan penerapan hasil penyelidikan itu. Penafsiran, implikasi dan penerapan dapat dijelaskan sebagai berikut:

Penafsiran hasil penelitian; barangkali bagian ini adalah bagian laporan yang paling sulit, tetapi juga paling berharga. Penafsiran peneliti terhadap hasil penelitian itu akan menghubungkan hasil-hasil tersebut dengan teori dan penelitian lain di bidang itu serta dengan prosedur penelitiannya.

Implikasi hasil penelitian; di bagian ini hendaknya dibicarakan sumbangan hasil penyelidikan itu bagi pengetahuan yang lebih luas di bidang itu. Di sini peneliti menerangkan bagaimana hasil-hasil tersebut mungkin akan dapat mengubah teori yang bersangkutan dan menunjukkan perlunya diadakan penelitian selanjutnya.

Penerapan. Suatu pernyataan mengenai penerapan hasil penelitian tersebut akan membantu pembaca laporan mengetahui sejauh mana hasil-hasil tersebut dapat diterapkan di dalam praktek.

Untuk lebih memperjelas tentang topik ini, berikut ditampilkan contoh Penulisan Hasil Penelitian dan Pembahasan mengenai “Analisi Manajemen kepala sekolah pada SMP Negeri ….(case study):

BAB IV

Hasil Penelitian dan Pembahasan

A. Profil sekolah

B. Masalah penelitian

1. Aspek perencanaan (misalnya diadakan wawancara) hasil wawancara dimasukkan didalam body tulisan)

Hasil wawancara guru A sebagai berikut:

…………………………………………………………….

……………………………………………………………

……………………………………………………………

Hasil wawancara guru B sebagai berikut:

…………………………………………………………….

……………………………………………………………

……………………………………………………………

C. Pelaksanaan

D. Monitoring

E. Evaluasi

F. Pembahasan

1. Perencanaan kepsek

Dalam penelitian ini perencanaan kepsek ditemukan ternyata kepala sekolah melakukan perencanaan dengan baik. Namun beberapa aspek yang perlu ditingkatkan. Hasil penelitian ini dari kondisi lapanganà kepala sekolah selalu melakukan pengarahan-pengarahan, tempat audiens refresentatif, ada snack)à justifikasi dengan teori: “temuan ini didukung oleh teori A yang menyatakan bahwa “………………………..” dan teori B yang menyatakan bahwa “ perencanaan membutuhkan audiens”

2. Pelaksanaan Manajemen

· Dalam penelitian ini Pelaksanaan Manajemen kepsek ditemukan ternyata; kepala sekolah melakukan Pelaksanaan Manajemen kurang maksimal. Namun beberapa aspek sudah memenuhi sesuai dengan perencanaan. Faktanya adalah ………..à justifikasi ini sesuai dengan teori si A, dan didukung oleh teori si B.

3. Monitoring Pelaksanaan Manajemen kepala sekolah ….dan seterusnya…

f. Simpulan dan saran, kesimpulan biasanya jawaban dari rumusan masalah, pernyataan yang berhubungan dengan status pernyataan hasil penelitian. Status pernyataan penelitian sudah terdeteksi apakah pernyataan lemah tadi gugur (karena lemah) atau sebaliknya menjadi kuat. Kesimpulan terbentuk dari hasil pembahasan.

Saran merupakan rekomenadsi seorang peneliti berdasarkan hasil temuannya, dari hasil temuannya ini maka konsep dapat dituangkan kepada pihak terkait langsung. Jika buka pada pihak terkait langsung maka saran itu tidak dapat respon. Pastikan sarannya sebatas konsep, jangan berupa program.

3. Bagian akhir

a. Daftar pustaka

untuk menulis daftar pustaka dapat dilihat pada bagian lain tulisan yang berjudul METODE PRAKTIS PENYUSUNAN KARYA ILMIAH

b. Lampiran

lampiran berisi segala instrument, dokumen, bukti-bukti yang melegalisir penelitian, data mentah, hasi pengolahan data, rumus-rumus yang digunakan, tabel nilai F, nilai T dan lain sebagainya. Setiap lampiran diberi nomor urut dengan m,enggunakan angka arab yang diikuti titik dan nama lampiran. Hal ini penting untuk menyusunan daftar lampiran (kalau ada).



Rujukan


  • Ardi Muhammad.2009.Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif.Disajikan pada Kuliah rutin Mahasiswa Pascasarjana Kekhususan Manajemen Pendidikan Kelas A1.Makassar:PPs UNM
  • Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar.2009.Padoman Penulisan Tesis dan Disertasi.Makassar.UNM
  • Zakaria.2009."Metode Praktis Penulisan Karya Ilmiah".Online.(http.zakaria71.blogspot.com.doc).Diakses 3 Juni 2010.

Tuesday, June 1, 2010

Planning dalam Kegiatan Lesson Study-2

Pada tulisan yang lalu, sebagian telah diungkap tentang planning dalam kegiatan Lesson Study, berikut adalah sambungan dari tulisan tersebut....Learning to do...

Konsep tentang apa itu bunyi sudah dibahas pada pertemuan ke-5 dan sudah disinggung juga pada pertemuan-pertemuan pada KD 6.1. demikian pula dengan jenis gelombang bunyi, sifat-sifat bunyi yang dapat dipantulkan, dapat merambat melalui suatu medium. Pada pertemuan ke-6 ini, siswa diarahkan untuk membangun kembali pengetahuan dan pengalaman dasar mereka mengenai apa yang sering dijumpai dalam kesehariannya.

1) Mengapa rumah di pinggir jalan bergetar jika ada mobil truk melaju kencang…

2) Vas bunga terjatuh dari loudspeaker yang aktif,

3) Bunyi gitar dengan kecapi berbeda kekuatan suaranya,

4) Banyak kaca gedung yang pecah di sekitar jika terjadi getaran hebat,

5) Tali ayunan agar dapat berfungsi baik talinya harus sama panjang, dan lain sebagainya.

Pengalaman ini sudah diketahui siswa, guru selanjutnya memfasilitasi agar terarah kea rah konsep bahwa semua itu terjadi karena resonansi…. Pertanyaan selanjutnya bagaimana usaha guru agar siswa mengetahui konsep resonansi? Dan apa hubungan antara resonansi dengan konsep utama kita yaitu bunyi sebagai gelombang?

Sekarang mari kita lakukan langkah-langkah berikut dengan memperhatikan bahwa siswa;

1) Sudah memahami tentang gelombang, getaran, frequensi

2) Sudah mengalami/menyaksikan tentang fenomena disekitar tentang pecahnya kaca gedung, bunyi yang kuat pada gitar, jatuhnya vas bunga. Tali ayunan yang harus sama panjang, dan rumah yang bergetar dipinggir jalan.





Artinya,

1) bunyi merupakan suatu gelombang,

2) dan bunyi dapat beresonansi

Naaah… sekarang semakin terarah, bahwa siswa diarahkan untuk mengetahui tentang resonansi dengan menitik beratkan pada syarat terjadinya resonansi yaitu frekuensi. Frekuensi adalah banyaknya getaran/sekon. Apa manfaatnya bagi siswa untuk mengetahui resonansi?..yaah untuk menjawab segala fenomena yang dialami siswa, untuk mendapatkan informasi tentang sifat-sifat bunyi. Sebenarnya sebagian KD sudah tercapai yaitu konsep tentang bunyi, hubungan antara bunyi dengan gelombang, hubungan bunyi dengan frekuensi. Tetapi SK 6. mengarahkan bahwa Memahami konsep dan penerapan getaran, gelombang, dan produk teknologi sehari-hari. Dan KD. 6.2. Mendeskripsikan konsep bunyi dalam kehidupan sehari-hari. Produk tekhnologi dalam kehidupan sehari-hari inilah yang akan dibelajarkan pada siswa.

Rekan calon guru model rupanya butuh kolaborasi untuk membelajarkan siswa dengan pengamatan pada bandul.

Tujuan

Mengamati resonansi pada bandul

Alat dan bahan

Benang, lima buah bandul yang massanya sama, dan dua buah tiang yang sejajar

Cara kerja

1) Siapkan alat dan bahan.

2) Hubungkan kedua tiang dengan benang.

3) Gantungkan bandul-badul tersebut pada benang tadi. Panjang tali tiap bandul dibuat berbeda seperti pada Gambar di bawah ini



4) Ayunkan bandul A, lalu amati bandul-bandul yang lain. Bandul manakah yang mengikuti gerakan bandul A?

5) Ulangi langkah 4 dengan mengayunkan bandul B, C, D, dan D.

6) Catat hasil pengamatanmu!

Pertanyaan

1) Pada saat bandul A kamu ayunkan, bandul manakah yang ikut bergetar bersama-sama bandul A?

2) Pada saat bandul B kamu ayunkan, bandul manakah yang ikut bergetar bersama-sama bandul B?

3) Pada saat bandul C kamu ayunkan, bandul manakah yang ikut bergetar bersama-sama bandul C?

4) Pada saat bandul D kamu ayunkan, bandul manakah yang ikut bergetar bersama-sama bandul D?

5) Pada saat bandul E kamu ayunkan, bandul manakah yang ikut bergetar bersama-sama bandul E?

6) Mengapa demikian?

Apa yang perlu didiskusikan dari LKS di atas?..ya tampak sederhana bagi guru, tapi kita perlu ingat bahwa sekarang ini pembelajaran berpusat pada siswa (learn of student center). Artinya dengan mempersiapkan alat/bahan untuk dirakit oleh siswa, maka pembelajaran 2 X 40’ nantinya hanya akan mendapatkan data bahwa bandul A bergetar = bandul …, bandul B bergetar = bandul …., bandul C bergetar = bandul …. dan seterusnya habis waktu. Esensi tujuan pembelajaran yang akan mengkoneksikan kebermaknaan menjadi bias, mungkin siswa tidak mendapatkan 1) konsep resonansi yang cukup, 2) bagaimana hubungan antara resonansi dengan frekuensi. Siswa akan terkuras waktunya untuk menyusun bandul-bandul, sehingga mungkin saja terbentu mindset pada siswa kita bahwa resonansi adalah bandul yang diayunkan. Kondisi ini harus dihindari, sehingga perlu dipertimbangkan:

a. 1) susunan pengamatan di atas hanya sebagai pengantar untuk mendapatkan hubungan bahwa resonansi terjadi jika frekuensi sumber dan yang dipengaruhi sama, 2) frekuensi dipengaruhi oleh panjang benang. Pertanyaan yang dapat diangkat untuk kegiatan di atas yaitu; untuk apa berat bandul disamakan?, mengapa penghubung kedua tiang berupa benang atau kawat, bukan besi?, mengapa bandul A frekuensinya samadengan bandul C (misalnya) sehingga menyebabkan bandul ikut bergerak?, mengapa panjang benang yang sama diletakkan selang-seling?, apa hubungan panjang benang yang sama dengan frekuensi?, jika dua bandul dengan panjang benang yang sama tetapi pada statif yang berbeda (masing-masing berdiri sendiri kedua tiang tidak terhubung)apakah terjadi fenomena yang sama?...dan banyak lagi pertanyaan lainnya (pokoknya asyik deh, 6 X 40’ ber'planning' seru....!! masih belum cukup).

b. Jika pengamatan di atas sebagai pengantar untuk mendapatkan konsep resonansi artinya rangkaian pengamatan sudah tersedia sebelum siswa masuk ruangan, karena rangkaian tersebut sebagai alat untuk demonstrasi guru (makanya prapraktek perlu diperhitungkan dalam ekuivalensi jam tatap muka).

c. Jika memperhatikan tujuan pembelajaran kita yang ke-4, dapat memunculkan kekhawatiran bahwa resonansi adalah sesuatu yang negatif. Untuk itu kegiatan utama kita adalah bagaimana memanfaatkan garpu tala baik berkotak maupun yang tidak berkotak. Kegiatan ini akan mengantar pada siswa kita mengapa gitar suaranya lebih besar daripada kecapi. Mengapa laudspeaker dapat menggetarkan dinding seng, dapat mengetarkan vas bunga dan lain sebagainya. Garpu tala? Apa yang dapat menghubungkannya dengan resonansi?..

d. Untuk itu skenarionya adalah, 1) setelah siswa mendapatkan penjelasan tentang hubungan resonansi dengan frekuensi dari kegiatan bandul, 2) bunyi merambat dengan medium udara (gas), benda padat, dan benda cair, 3) ditanamkan konsep bahwa sumber bunyi akan menggetarkan udara disekitanya, 4) benda yang berada pada medan getar akan ikut bergetar jika mempunyai rentang frekuensi yang sama dengan sumber bunyi (garpu tala). Siswa disuguhkan aktraksi atau mereka yang beraktraksi jika alat cukup dengan garpu tala yang berfrekuensi sama untuk mendapatkan konsep resonansi. Ditambahkan lagi jika tersedia 5) letakkan 2 buah gitar yang sudah distel standar di meja secara terpisah, petik tali ke-3 pada salah satunya dan amati tali ke-3 pada gitar yang lainnya..mmmhh asyik khan?.

e. Jika scenario ini yang kita pilih maka mari kita diskusikan Indikator dan tujuan pembelajaran kita.

Indikator:

  • Menunjukkan gejala resonansi dalam kehidupan sehari-hari.
  • Menunjukkan hubungan resonansi dengan frekuensi (tambahan;hasil planning)
  • Memberikan contoh pemanfaatan dan dampak pemantulan bunyi dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi.


Tujuan Pembelajaran:

1) Menjelaskan pengertian resonansi,

2) Mengamati terjadinya resonansi pada bandul sederhana, (diubah;hasil planning --> menjelaskan hubungan antara resonansi dengan frekuensi suatu benda),

3) Menjelaskan syarat terjadinya resonansi pada garpu tala (tambahan;hasil planning),

4) Menjelaskan aplikasi konsep resonansi pada alat music, (diubah;hasil planning --> menuliskan beberapa dampak terjadinya resonansi),

5) Menjelaskan masalah yang ditimbulkan resonansi (dihapus;hasil planning).

f. Setelah memilih metode pembelajaran yang dikuasai oleh guru dan mempertimbangkan daya dukung sekolah, kita susun kegiatan Pendahuluan pembelajaran sebagai berikut:

….*) sebagai appersepsi

…..**), dijadikan dalam bentuk pertanyaan sebagai motivasi

….***), dan ..****) sasaran yang kita inginkan siswa kuasai.

g. Kegiatan Inti pembelajaran sebagai berikut:

· Setelah terbentuk 6 kelompok, guru menjelaskan tentang frekuensi,

· Guru mendemonstrasikan perangkat pengamatan bandul dan siswa mencatat datanya,

· Siswa menyimpulkan dan guru meluruskan tentang pengertian dan syarat terjadinya resonansi,

· Siswa menyiapkan alat pengamatan secara berkelompok,

· Siswa mengerjakan kegiatan sesuai LKS dan mencatat hasil pengamatan,

· Siswa mempresentasekan hasil pengamatannya,

· Guru memberi penjelasan tentang dampak resonansi dalam kehidupan sehari-hari,

· Siswa dan guru membangun kesimpulan pembelajaran.

h. Kegiatan Penutup pembelajaran sebagai berikut:

· Guru memberi kesempatan 2-3 orang merefleksi pembelajaran "kita".

· Penilaian berupa Quiz,

· Guru memberi reward pada kelompok terbaik

· Guru member PR tentang dampak resonansi dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu lampiran RPP berupa LKS sebagai berikut:

Tujuan

Mengamati resonansi pada gelombang bunyi

Alat dan bahan

Sebuah garputala tanpa kotak dan dua buah garputala yang frekuensinya sama lengkap bersama kotaknya

Cara kerja

1. Siapkan alat dan bahan.

2. Catat frekuensi garpu tala, getarkan salah satunya dan amati garpu tala yang lain.

3. Pukul garputala tanpa kotak dengan tidak menyentuhkannya pada meja. Amati bunyinya

4. Pukul kembali garputala tersebut. Setelah berbunyi, tekankan garputala tadi pada kotaknya. Bandingkan bunyi yang terjadi

5. Simpanlah kedua garputala yang dilengkapi kotak secara berhadapan. Pukullah salah satu garputala tadi sehingga terdengar suara nyaring. Peganglah garputala yang tadi kamu pukul. Apa yang terjadi?

Pertanyaan

1. Apa yang terjadi jika salah satu garpu tala yang berfrekuensi sama salah satunya digetarkan?

2. Lebih nyaring manakah antara bunyi garputala tanpa kotak dan bunyi garputala dengan kotak? Mengapa demikian?

3. Ketika garputala yang dilengkapi kotak kamu pukul dan setelah berbunyi kamu pegang, apakah masih terdengar bunyi nyaringnya?

4. Apakah yang dapat kamu simpulkan?

1. Mempelajari dan atau merevisi lembar observasi, sesuai focus karaktristik yang ingin diamati.

2. Walau sifatnya sepele karena sudah rutin dilampirkan, tetap diingatkan tentang tata tertib Lesson Study yang berisi tata tertib saat berperan sebagai: modertator, observer dan saat refleksi.


C. PENUTUP

1. Kesimpulan

Planning membutuhkan sikap dewasa dan saling menghargai dalam suasana kolegis, akrab dan santai tapi terarah dan berfokus pada rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dari pengalaman ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

1) Rencana Pembelajaran yang didiskusikan harus memperhatikan komponen 1) SK, 2) KD, 3) Indikator, dan 4) tujuan pembelajaran, 5) daya dukung sekolah, 6) kompleksitas materi, dan 7) karakteristik siswa,

2) Komponen 1-4 di tulis pada papan tulis/white board untuk dipetakan agar forum pada terfokus pada kompetensi yang ingin dicapai,

3) Forum harus menganalisi materi dan langkah-langkah pembelajaran materi tersebut,

4) Forum harus selalu bertanya apa yang harus siswa ketahui…bagaimana agar siswa itu dapat mengetahuinya?

5) mempelajari dan atau merevisi lembar observasi.

6) Walau sifatnya sepele karena sudah rutin dilampirkan, tetap diingatkan tentang tata tertib Lesson Study yang berisi tata tertib saat berperan sebagai: modertator, observer dan saat refleksi.

2. Saran-saran

Pembelajaran dengan satu kali pertemuan dalam Lesson Study membutuhkan diskusi sedemikian seru, yaaa..kalau mengajar tidak sampai demikian tapi perlu diingat bahwa kita akan membelajarkan siswa dengan warga belajar kita adalah subyek pembelajaran. Dengan pertimbangan ini, maka diutarakan saran-saran sebagai berikut:

1) Pengalaman dalam Open Lesson rekan-rekan sangat penting untuk dijadikan rujukan,

2) Sepakatilah satu hari kerja dalam satu minggu sebagai hari satudinya (misalnya Sains/IPA day’s adalah tiap hari kamis),

3) Kolegalitas dalam berkolaborasi harus dijunjung, tidak menggurui dan tidak membawa status/pangkat/jabatan di dalam forum ini.

4) Kalau Lesson Study berbasis MGMP rangkullah rekan guru yang mempunyai rasa minder tancapkan slogan “anda tidak sendiri, kita adalah kami semua”,

5) Untuk penentu kebijakan, perlu pertimbangan inservice training tidak akan efektif jika pendampingan tidak lebih seru dibanding inservice traningnya, karena Lele bulu’ ta lele abiasan, lele mua abiasan abiasan topa palelei artinya Gunung dapat berubah tetapi kebiasaan/karakter tetapi tidak berubah, kebiasaan/karakter dapat berubah hanya jika kebiasaan pula yang mengubahnya.

6) Ekuivalensi jam tatap muka untuk kegiatan Planning (6 jam tatap muka), Open class (2 jam tatap muka), dan Refleksi (4 Jam tatap muka) sangat mendukung keterlaksanaan implementasi Lesson Study. Disepakati bahwa kuantitas jam pembelajaran akan menurunkan kualitas pembelajaran itu sendiri.